Thursday, March 8, 2012

Pagi ini aku baca di koran New Strait Times Malaysia, tulisan seorang editor koran tersebut tentang pembantu rumah tangga Indonesia. 
Seperti kita ketahui, pemerintah Indonesia sempat menghentikan pengiriman tenaga kerja Indonesia ke Malaysia, termasuk tenaga pembantu rumah tangga (PRT) tentu. Setelah negosiasi yang alot antara pemerintah Indonesia dan Malaysia tentang pengiriman PRT Indonesia ke Malaysia, kebekuan itu akhirnya cair dan pemerintah Indonesia besedia mengirimkan kembali tenaga kerjanya ke Malayasia, namun masih saja timbul banyak kendala, antara lain karena PRT belum bisa memenuhi kriteria yang ditetapkan pemerintah Malaysia yaitu menjalani pelatihan keterampilan di tanah air selama 200 jam.


Masalah PRT Indonesia di Malaysia memang kompleks. Di satu sisi Malaysia sangat membutuhkan tenaga PRT, karena mayoritas wanita malaysia bekerja/berkarir di luar rumah. Bagi mereka yang mempunyai anak kecil tentu merupakan suatu masalah besar jika tanpa PRT yang membantu mereka mengurus rumah dan menjaga anak-anaknya. 


Tetapi di sisi lain, rakyat Malaysia-pun mengalami masalah dengan PRT yang membuat mereka cukup stress memikirkannya. Misalnya, tidak sedikit dari PRT itu yang kabur dari rumah majikan , padahal majikan telah mengeluarkan biaya yang besar untuk mendapatkan jasa PRT. Bahkan ada di antara PRT itu yang kabur dengan membawa barang-barang berharga milik majikan seperti hp, uang, bahkan celengan anak majikanpun dibobolnya.  Itulah pengalaman yang diceritakan oleh penulis di NST ini. Belum lagi masalah penyakit yang baru ketahuan setelah mulai bekerja seperti tuberculosis bahkan penyakit menular seksual, padahal mereka telah dinyatakan lolos ujian kesehatan. 


Padahal katanya, dia memperlakukan pembantunya seperti keluarga sendiri, diberi kamar tidur sendiri, jam istirahat cukup, bebas menonton tv, bahkan memakai telepon untuk menghubungi keluarganya di kampung. 


Mungkin ada segelintir majikan yang memeprlakukan pembantunya tidak seperti si penulis ini. Tetapi hal ini sangat jarang, karena saya melihat sendiri di tempat-tempat umum seperti restoran dan mall, PRT duduk satu meja dengan majikan sekeluarga, makan dengan menu yang sama, dan diajak bercengkerama bersama seperti layaknya anggota keluarga. Bahkan di lingkungan tempat tinggal saya, ketika majikannya pergi ke kantor dan ke sekolah, para PRT bebas ngobrol dan bercengkerama dengan sesama PRT tetangganya sambil momong anak majikan, atau sambil menyapu, membuang sampah, bahkan cuma ngobrol saja tanpa kegiatan apa-apa. Kadang-kadang mereka berbicara dengan suara keras dalam bahasa dan logat daerah asalnya.


Saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan PRT yang notebene adalah bangsa saya sendiri, bahkan mungkin saudara sekampung nenek saya, tetapi saya hanya menyampaikan apa yang saya alami dan lihat sendiri selama tujuh tahun tinggal di Malaysia. Saya tidak bisa menyalahkan mereka, para PRT itu, karena mereka tidak mempunyai cukup bekal pendidikan dan keterampilan, termasuk pendidikan agama. Bahkan memakai jilbab-pun baru dilakukan di Malaysia atas anjuran dan didikan majikannya.


Lantas, bagaimana seharusnya kita harus bersikap menghadapi masalah ini?
Tidak ada jalan lain selain menghentikan pengiriman wanita Indonesia sebagai pekerja non-formal ke manapun, tidak hanya ke Malaysia. Wanita seharusnya dilindungi, dihargai, dinafkahi oleh para lelaki. Siapakah lelaki itu? Banyak. Suaminya, atau ayahnya, atau anak lelakinya, atau saudara lelakinya, atau pamannya. Begitulah seharusnya wanita diperlakukan, bukan sebaliknya, dikirim ke LN untuk diperas tenaganya sebagai pekerja kasar tanpa skill dan pendidikan yang memadai. Akibatnya harga diri bangsa kitalah yang tercoreng, sebab mereka mewakili wajah bansga Indonesia. 


Mungkin anda tidak percaya kalau saya ceritakan, bahwa saat-saat awal tinggal di Malaysia, saya sering ditanya oleh orang Malaysia, apakah ada kawan atau saudara yang mau bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Saya sangat terkejut dengan kenyataan ini, kenyataan yang tidak pernah saya bayangkan sebelum menginjakkan kaki ke Malaysia. 


Rupanya, image orang Malaysia tentang perempuan Indonesia adalah; kurang pendidikan, dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Kalau mereka melihat perempuan Indonesia berpenampilan lumayan rapi dan keren, mereka menebak bahwa perempuan Indonesia itu dinikahi oleh lelaki Malaysia. Astaghfirullah.

Lalu, siapakah yang harus disalahkan? apakah orang Malaysia yang punya image seperti itu? atau siapa? sudah seharusnya kita introspeksi diri, tidak melulu menyalahkan orang lain. Sebab, bukan hanya di Malaysia perempuan Indoenesia dipandang rendah dan dianggap pembantu rumah tangga semua,  tetapi juga di negara-negara lain  yang mempekerjakan TKW seperti Hongkong, Taiwan, dan Arab Saudi. Jadi seharusnya pengiriman TKW dihentikan bukan hanya ke Malaysia tetapi ke manapun. 

Lalu, apa solusinya? buka lapangan pekerjaan di daerah luar Jawa, bangun sektor pertanian, peternakan, perikanan dan usaha kecil/menengah, dan buka kesempatan seluas-luasnya untuk LELAKI, agar mereka mampu menafkahi kaum perempuan. Bukan sebaliknya, yang pada zaman ini, ydicari adalah pegawai perempuan berpendidikan tinggi dan berpenampilan menarik, sementara kaum lelaki tersisih dan menganggur. Perempuan yang tidak cukup pendidikan dan tidak berpenampilan cantik-molek-seksi terpaksa pergi ke luar negeri menjadi pembantu tumah tangga, yang akibatnya mencabik-cabik harga diri bangsanya.

Sebaliknya bagi perempuan Malaysia, walaupun anda semua berpendidikan tinggi, selagi anda masih punya anak balita, tinggallah dulu di rumah, manfaatkan momen emas mengasuh sendiri balita anda, sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga semampunya, karena para suami selain berkewajiban mencari nafkah juga diajurkan untuk ikut membantu tugas rumah tangga. Nanti ada masanya, ketika anak-anak anda mulai bersekolah, ketika mereka menghabiskan waktu sampai sore di sekolah, bolehlah para ibu mempunyai kegiatan di luar rumah, entah bekerja kantoran, berdagang, mengajar, atau jika perekonomian rumah tanggs sudah mencukupi, hendaklah para ibu ini lebih memilih menghadiri majelis-majelis ilmu, kelas-kelas tadarus dan kajian al-Qur'an, untuk menambah bekal dalam mendidik anak dan mendampingi suami.

Apalagi kalau anak-anak sudah memasuki usia remaja, mereka bisa bergotong royong mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, membantu mengurus dan mengajari adik-adiknya. atau masuk asrama bagi yang berkemampuan secara finasial atau akademik.

Tidak perlulah para wanita mengejar karir dan harta dunia, bersikap qona'ah lah atas pemberian suami, jangan terbawa arus hedonisme. Jika hal-hal di atas anda ikuti, maka anda tidak lagi memerlukan jasa pembantu rumah tangga.

wallahu a'lam

Learn to live without maids


The outlook appears bleak for employers

WILL they be back? Some say yes, others are unsure, while there are those who are adamant they will never return to Malaysian shores.  No, we are not talking about leatherback turtles or brown-feathered raptors, but Indonesian maids.

The two-year freeze has been lifted after exhaustive negotiations between Malaysia and Indonesia, but going by recent developments, the outlook does not appear positive for those who have been waiting anxiously for domestic helpers from Indonesia.

Last Sunday, fresh claims of maid abuse surfaced and the Indonesian embassy here advised its government to suspend the sending of maids here indefinitely.

Two days later, a 10-year road map to stop Indonesian maids from working abroad — the number will be eventually brought down to almost zero by 2017 — was unveiled.
On Tuesday, Human Resources Minister Datuk Seri Dr S. Subramaniam assured that the supply of maids from Indonesia would continue but, at the same time, urged Malaysians to learn to live without maids.

Whatever it is, we should brace our selves for the worst. Or should these developments be viewed from a more optimistic perspective?

Without Indonesian maids — the cheapest form of domestic help — we can perhaps finally learn to pick up after ourselves and be “less lazy”, as a reader stated in his letter to this newspaper. “Only sloths need maids,” he continued.

Right, so without maids, we would be more hardworking. And probably less stressed out, too.
Who wouldn’t be if the maid ran off after just one week in employ, with the mobile phones, loose change and the children’s hard-earned “life savings” in their coin-boxes? That was what the last domestic helper I recruited did.

If I had treated her like chattel or a slave, forced her to wash the car at dawn everyday, eat scraps in the kitchen, or used her for paintball target practice, her rash act might have been understandable.

However, she was treated like a member of the family, with a spacious room to herself, allowed enough rest and sustenance, and given full access to the television, and phone for calls back home. But the grass on the other side of our garden fence was obviously greener.
Without maids, we would no longer have to live with the spectre of them fleeing, leaving the baby wailing and unfed; or recoil when they are diagnosed with tuberculosis or a sexually transmitted disease, after being certified with a clean bill of health. Indeed, nothing can make people recoil in horror quite as effectively as stories about the hired help.

It may have happened to a friend of an aunt or the neighbour of a colleague, but they are not exaggerated flights of fancy or the stuff of urban legend. Many Malaysian households have experienced all this and more. Rarely is an employer fortunate enough to have the same maid for longer than a few months, or be completely satisfied with her expertise, skills and deportment.

Ironically, however, can we survive without them?

Yes, some say. Malaysian maids are the answer.

The Department for Women’s Development, a few years ago, trained local women to help ease the huge demand for domestic help. Between 2008 and 2010, it trained some 1,199 women around the country as domestic helpers.

But it is learnt that the programme has fallen by the wayside. Even if it had been successful, it is doubtful that Malaysians will be signing up in droves to be maids, even if they are called “home managers”, or something else similarly sophisticated.

Does a better solution lie in the workplace? Childcare support at offices would be extremely helpful but this continues to be sorely lacking despite repeated calls for companies to set up creches.

Firms remain reluctant to undertake this measure due to problems with cost, logistics, manpower and safety.

What about childcare centres, taska and childminders? That’s possible, but it’s not easy locating good, reliable and dependable ones.

The news reports of babies in childcare centres choking on their milk, drowned in basins and comatose after being dropped on their heads do not help inspire confidence in our childcare centres.

The most recent case involved babies being bound tightly and taped in the mouth at a taska in Johor. Placing our children there thus requires a giant leap of faith. As do hiring foreign domestic helpers.

What’s the solution then? Flexi-working hours? Be a stay-at-home parent? Some say the most realistic option would be to have less kids, or better still, none at all.
Read more: Learn to live without maids - Columnist - New Straits Times http://www.nst.com.my/opinion/columnist/learn-to-live-without-maids-1.57571#ixzz1oUc8qdTt

Sunday, March 4, 2012

21 tahun berlalu sangat cepat 

Masih juga dia terlihat memikat 

Ijinkan aku menemuinya sekali lagi 

Sebelum dunia fana kutinggal pergi

someone,somewhere, Januari 2010

Monday, January 25, 2010

MEMPERTAHANKAN JATI DIRI MUSLIM

Oleh: Lokman Ismail


Umat Islam di seluruh dunia hari ini semakin diserang dan dihimpit dengan masalah yang menyebabkan terhakisnya jati diri sebagai Muslim. Kualiti hidup umat Islam secara umumnya berada pada paras semakin rendah. Biarpun bilangan umat Islam ramai, namun keadaannya seperti buih di lautan.


Keadaan ini perlu dipantau dan diatasi segera. Sekiranya tidak ada usaha mempertahankan jati diri Muslim, pada dekad akan dating menyaksikan umat Islam kembali berada pada zaman era penjajahan. Sekarang ini sudah ada beberapa buah Negara Islam ‘dijajah’ oleh kuasa besar secara nyata, dan banyak lagi yang jadi pak turut.

Apa yang berlaku sebenarnya adalah bukti betapa rapuhnya jati diri Muslim. Umat Islam seperti tidak lagi mempunyai keyakinan untuk bebas daripada cengkaman bukan Islam. Umat Islam seperti tercari-cari identiti baru yang bersumberkan barat. Sedangkan sebenarnya, Islam telah menjelaskan peraturan hidup yang perlu diikuti setiap penganutnya.


Didapati ramai umat Islam hanya Islam pada namanya, tetapi tidak pada akidah dan amalan kehidupan sehariannya. Nilai hidup umat Islam semakiin jauh daripada apa yang sepatutnya sebagai seorang Muslim. Keyakinan untuk mengamalkan cara hidup Muslim semakin hilang.

Keadaan ini menjadi semakin genting apabila ada pihak yang memang bermaksud memisahkan umat Islam daripada nilai-nilai hidup mulia yang menjadi teras kekuatan Islam. Musuh Islam sedar, amat sukar untuk mempengaruhi agar penganut Islam keluar daripada agama benar ini. Justru, apa yang mampu dilakukan musuh Islam ialah menghakis jati diri muslim.


Isu penyelewengan ajaran Islam, ancaman sekulerisme, globalisasi, teknologi maklumat dan tekanan terhadap umat Islam semakin memporak-pondakan jati diri Muslim. Serangan yang bertubi-tubi ini tidak mampu diatasi dalam keadaan umat Islam sendiri tidak bersatu.


Keadaan paling membahayakan dalam masyarakat Islam adalah ancaman kewujudan munafik modern. Golongan ini menampakkan diri dengan label Islam, tetapi jauh di sudut hati, mereka mempermainkan dan merendahkan kemurnian agama itu sendiri. Mereka menggunakan agama untuk mencari kedudukan dan penghormatan.

Golongan ini menimbulkan kekeliruan dan perpecahan umat Islam. Mereka sanggup membelakangkan ajaran Islam yang diketahuinya benar, tetapi menimbulkan satu yang bertentangan demi kepentingan pribadi dan kelompok mereka.


Perbuatan ini lebih berbahaya berbanding apa yang dilakukan secara terang-terang oleh musuh Islam.


Mereka seperti juga golongan orientalis yang mengetahui perkara sebenarnya mengenai Islam, namun melakukan perkara sebaliknya. Pengetahuan mengenai ajaran Islam digunakan untuk melemahkan Islam. Sebab itu, golongan ini mampu mengeluarkan hujah-hujah yang kelihatan seperti ‘sempurna’ yang mudah diterima ramai.

Perkara-perkara yang menyebabkan terhakisnya jati diri Muslim perlu diatasi segera. Minda umat Islam perlu dibuka untuk melihat kebenaran Islam berdasarkan Qur’an, Hadis dan ijmak ulama. Pemikiran yang membawa Islam ke belakang dan semakin lemah nyata bertentangan dengan kesyumulan Islam.


Ajaran Islam sesuai untuk sepanjang zaman. Islam hadhari membawa keperluan umat Islam semasa. Perkakasan yang diperlukan umat Islam kini tentulah berbeza dengan apa yang dilalui dan dilakukan umat Islam terdahulu. Apabila disebut hadhari atau tamadun adalah menunjuk kepada yang semasa.


Justeru, jika umat Islam ingin bersaing dengan bukan Islam, asas yang diperlukan ialah berusaha berubah seiring dengan dunia semasa. Pandangan yang menolak pembaharuan samalah meletakkan Islam sebagai agama kolot. Inilah yang diusahakan oleh orientalis agar Islam terus ketinggalan. Isaha orientalis itu berjaya dengan sokongan dalaman umat Islam sendiri.

Media barat dan musuh Islam sentiasa menimbulkan isu yang bertujuan memperlekehkan kesyumulan Islam. Memandangkan kuasa propaganda barat begitu kuat, ada di kalangan individu muslim mudah terpengaruh atau terikut-ikut dengan ‘rentak’ itu. Hal ini banyak dipengaruhi fahaman bahawa apa yang datang dari barat dianggap betul.


Apa yang berlaku itu bukan sahaja terhadap Islam, bahkan turut dialami di kalangan negara miskin dan sedang membangun. Hakikat ini sebahagian daripada penjajahan baru yang dikenali sebagai neo-kolonialisme. Sifat era kolonialisme masih menebal di kalangan masyarakat yang pernah dianggap tuan. Justru, mereka terus berlagak sebagai tuan melalui kaedah neo-kolonialisme.


Bentuk penjajahan neo-kolonialisme dilakukan tanpa Negara penjajah menguasai tampuk kuasa memerintah dan ketentaraan Negara dijajah. Sebaliknya, mereka menguasai pemikiran serta jiwa rakyat Negara berkenaan dengan menggunakan medium media massa, ideology, muzik, budaya, ekonomi, agama, pendidikan, individu yang dijadikan ikon atau idola, dan sebagainya.


Dalam hal ini, musuh Islam mengambil kesempatan menggunakan kedudukan Negara barat yang berkuasa untuk menindas kebanyakan Negara Islam yang lemah. Dengan kata lain, barat dan musuh Islam mempunyai dua agenda terhadap Negara Islam, mengaut keuntungan melalui neo-kolonialisme dan melemahkan pengaruh Islam.


Oleh itu amat penting setiap individu Islam memperkukuhkan jati diri muslim. Jati diri bermaksud mempertahankan keaslian dan kebenaran seperti mana yang telah ditetapkan tanpa berlaku sebarang perubahan yang akan mengubah keasliannya.


Asas kepada jati diri muslim ialah keteguhan iman di dalam diri. Setiap orang muslim perlu ada di dalam dirinya keyakinan kepercayaan kepada Allah sebagai Tuhan yang disembah dan berkuasa dalam menentukan segala perjalanan hidup manusia dan seluruh isi dunia ini.


Keimanan dan keyakinan kepada kekuasaan Allah perlu tersemat teguh di dalam hati dan dizahirkan melalui sifat-sifat yang membuktikan kepatuhan kepada segala suruhan dan menjauhkan apa yang dilarang.

Individu yang memegang teguh kepada jati diri muslim pada sebilang masa akan mengamalkan perkara yang akan meningkatkan lagi ketakwaannya di sisi Allah. Setiap perkara yang dilakukan berdasarkan kepada kehendak naluri yang dirinya sentiasa hampir (dekat) dengan Allah.


Akidah yang jelas dengan semangat jati diri muslim amat ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Musuh Islam sadar kekuatan dalaman dalam diri muslim, tidak mampu dirobek oleh senjata modern. Jadi, kekuatan dalaman itu yang diusahakan untuk dikeluarkan secara beransur-ansur melalui pelbagai pengaruh dan cara.


Barat sentiasa bermegah memperkenalkan dan mengamalkan fahaman yang dianggap terbaik untuk manusia. Mereka lupa bahawa hidup manusia sebenarnya telah dipiagamkan oleh ketetapan hukum.

Sebenarnya, persoalan membelakangkan agama dalam urusan kehidupan bukan sahaja agenda barat terhadap umat Islam, bahkan mereka sendiri terjerat dalam situasi tersebut. Masyarakat barat mengamalkan ideology sekularisme dan konsep dualisme yang memisahkan agama dan pentadbiran Negara. Biarkan si lucai terjun dengan labu-labunya.


Akibat fahaman itu, pihak gereja hilang opengaruh dalam pentadbiran Negara. Kerajaan bebas menentukan dasar dalam Negara dan menafikan kewujudan gereja yang sebelum itu amat berkuasa menentukan dasar kerajaan.


Sekularisme menekankan bahwa urusan Negara diuruskan oleh pemerintah. Manakala soal agama pula ditentukan oleh gereja.

Malangnyam fahaman itu turut menular di kalangan Negara Islam. Sejarah sekularisme paling buruk di kalangan Negara Islam berlaku di Turki sebelum Perang Dunia Kedua. Negara yang pernah menjadi pusat empayar Uthmaniah hilang identity sebagai sebuah Negara Islam. Seluruh system pentadbiran dan cara hidup rakyat bertukar seperti diamalkan di Negara-negara bukan Islam.


Menteri Dalam Negeri Turki pada tahun 1937 pernah membuat kenyataan: “Dengan sekularisme, kita telah membuat kepastian bahawa agama Islam tidak mempengaruhi urusan Negara. Biarlah agama tinggal di masjid-masjid dan di tempat ibadat sahaja. Biar ia tidak keluar dari dunianya”.

Pun, umat Islam masih bernasib baik apabila Turki kekal sebuah Negara Islam, tidak seerti nasib malang umat Islam di Sepanyol. Sepanyol pada sejarah silamnya adalah Negara Islam yang pernah mencapai kecemerlangan dan kegemilangan atas nama kerajaan Cordova.


Fokus utama kewujudan manusia ialah untuk menjadi khalifah di muka bumi.
Firman Allah bermaksud: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi ini”. (Surah al-Baqarah, ayat 30).


Tugas khalifah membawa erti perlu melakukan ketaatan kepada Allah dan menguasai ala mini untuk faedah kehidupan manusia sesuai dengan lunas-lunas Islamiah.

Ketaatan kepada Allah merangkumi tugas-tugas yang berkaitan dengan ibadat khusus dan juga segala kepatuhan lain yang ditetapkan sebagai amalan kehidupan sebagai hamba-Nya. Ketetapan tugas melakukan ibadat banyak dinyatakan oleh Allah dalam al-Quran sebagai memberi peringatan keperluan sebenar tugas manusia di dunia ini.


Islam memandu manusia untuk menuju ke arah kebaikan dan mencegah daripada melakukan keburukan. Jadi, apa yang baik dan indah itu adlaah Islam dan seduatu yang berbentuk keburukan bukan daripada ajaran Islam.


Berdasarkan kepada ketetapan itu, umat Islam bebas melakukan apa sahaja. Bahkan, Rasulullah sendiri menjelaskan bahawa, ‘kamu lebih mengetahui tentang urusan hidup kamu’. Ini jelas membuktikan Islam memberi kebebasan dalam menentukan apa yang baik, sesuai dengan keperluan semasa.


Sudah tiba masanya seluruh umat Islam membina kekuatan sendiri dalam semua aspek terutamanya ekonomi, sosial dan politik agar dapat berdikari, serta mendepani persoalan sejagat yang semakin kompleks. Justeru, jati diri muslim perlu diperkukuhkan yang membawa kepada kekuatan ummah keseluruhannya.


Sekarang ini bukan lagi masa untuk bersenang-senang dan mewujudkan persengketaan sesama sendiri. Umat Islam diseru dan disatuan dalam semangat Islam yang jelas dan murni untuk membentuk jemaah Islam yang kuat. Perbezaan fahaman politik mesti dijauhkan. Kepentingan politik Islam lebih penting berbanding kepentingan politik puak.

Al-Islam Mei 2005

Sunday, January 24, 2010

Muslimah is Precious

Everything Allah SWT made valuable in the world is covered and hard to get to. Where do you find diamonds? Deep down in the ground, covered and protected. Where do you find pearls? Deep down at the bottom of the ocean, covered up and protected in a beautiful shell. Where do you find gold? Way down and in the mine, covered over with layers and layers of rock. You’ve got to work hard to get them.


“Your body is sacred. You’re far more precious than diamonds and pearls, and you should be covered too.”

Friday, January 22, 2010

Great Man

If you are a woman that has a wonderful man that works so hard and would give up anything just to give it to you, then repost this... because great men are few and far between and by the grace of the divinity I have one....

Kau Memang Tidak Pernah Berubah

by: NN

lama ku merenung
dan akhirnya akupun yakin
dirimu memang tidak berubah
dirimu masih seperti yang dulu


sia-sia semua upayamu meyakinkanku
bahwa sifatmu tidaklah seperti dugaanku
ternyata itulah dirimu
dirimu yang dulu
sejak semula aku mengenalmu
puluhan tahun yang lalu


andai kau mau mendengar kataku
tiada cinta hanya persahabatan
andai kau bisa lebih menghargaiku
seperti yang lain kita bisa berteman


tapi inilah yang kau mau
kau datang semaumu kau pergi sesukamu
tapi aku bersyukur
telah berhasil mempertahankan prinsipku
dan aku lebih banyak lagi bersyukur
Allah telah menjawab semua doaku

Kisah Istri Kecanduan Chatting

by: Muhammad Abduh Tuasikal



Kadang jika kita hanya sekedar menyampaikan untaian nasehat, mungkin sebagian orang belum tersentuh. Namun tatkala dikemukakan sebuah kisah, barulah hati kita mulai tersentuh dan baru bisa menarik pelajaran. Semoga kisah berikut bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

Kisah Bincang-bincang Seorang Istri di Dunia Maya
Kisah ini terjadi di Lebanon berdasarkan apa yang saya dengar lewat kajian bersama ustadz di majelis ilmu syar’i … Ustadz menguraikan kisah ini agar bisa menjadi perhatian bagi muslimah di sini (Sydney) agar mereka berhati-hati terhadap chatting ini dan tidak melayani sapaan dari laki-laki yang suka iseng menggoda lewat chatting ini…

Beliau adalah seorang wanita muslimah yang alhamdulillah Allah karuniakan kepadanya seorang suami yang baik akhlak dan budi pekertinya. Di rumah ia pun memilki komputer sebagaimana keluarga muslim lainnya di mana komputer bukan lagi merupakan barang mewah di Lebanon. Sang suami pun mengajari bagaimana menggunakan fasilitas ini yang akhirnya ia pun mahir bermain internet. Yang akhirnya ia pun mahir pula chatting dengan kawan-kawanya sesama muslimah.

Awalnya ia hanya chatting dengan rekannya sesama muslimah, … hingga pada suatu hari ia disapa oleh seorang laki-laki yang mengaku sama-sama tinggal dikota beliau.Terkesan dengan gaya tulisannya yang enak dibaca dan terkesan ramah. Sang muslimah yang telah bersuami ini akhirnya tergoda pada lelaki tersebut.

Bila sang suami sibuk bekerja untuk mengisi kekosongan waktunya, ia akhirnya menghabiskan waktu bersama dengan lelaki itu lewat chatting, … sampai sang suami menegurnya setiba dari kerja mengapa ia tetap sibuk di internet. Sang istri pun membalas bahwa ia merasa bosan karena suaminya selalu sibuk bekerja dan ia merasa kesepian, … ia merahasiakan dengan siapa ia chatting .. khawatir bila suaminya tahu maka ia akan dilarang main internet lagi…. Sungguh ia telah kecanduan berchatting ria dengan lelaki tersebut.

Fitnah pun semakin terjadi di dalam hatinya, .. ia melihat sosok suaminya sungguh jauh berbeda dengan lelaki tersebut, enak diajak berkomunikasi, senang bercanda dan sejuta keindahan lainnya di mana setan telah mengukir begitu indah di dalam lubuk hatinya.

Duhai fitnah asmara semakin membara, … ketika ia chatting lagi sang laki-laki itu pun tambah menggodanya, .. ia pun ingin bertemu empat mata dengannya. Gembiralah hatinya, .. ia pun memenuhi keinginan lelaki tersebut untuk berjumpa. Jadilah mereka berjumpa dalam sebuah restoran, lewat pembiacaran via darat mereka jadi lebih akrab. Dari pertemuan itu akhirnya dilanjutkan dengan pertemuan berikutnya.

Hingga akhirnya si lelaki tersebut telah berhasil menawan hatinya. Sang suami yang menasehati agar ia tidak lama-lama main internet tidak digubrisnya. Akhirnya suami wanita ini menjual komputer tersebut karena kesal nasehatnya tidak di dengar, lalu apa yang terjadi ?? Langkah itu (menjual komputer) membuat marah sang istri yang akhirnya ia pun meminta cerai dari suaminya. Sungguh ia masih teringat percakapan manis dengan laki-laki tersebut yang menyatakan bahwa ia sangatlah mencintai dirinya, dan ia berjanji akan menikahinya apabila ia bercerai dari suaminya.

Sang suami yang sangat mencintai istrinya tersebut tentu saja menolak keputusan cerai itu. Karena terus didesak sang istri akhirnya ia pun dengan berat hati menceraikan istrinya. Sungguh betapa hebatnya fitnah lelaki itu. Singkatnya setelah ia selesai cerai dengan suaminya ia pun menemui lelaki tersebut dan memberitahukan kabar gembira tentang statusnya sekarang yang telah menjadi janda. Lalu apakah si lelaki itu mau menikahinya sebagaimana janjinya???

Ya ukhti muslimah dengarlah penuturan kisah tragis ini, … dengan tegasnya si lelaki itu berkata, “Tidak!! Aku tidak mau menikahimu! Aku hanya mengujimu sejauh mana engkau mencintai suamimu,ternyata engkau hanyalah seorang wanita yang tidak setia kepada suami. Dan, aku takut bila aku menikahimu nantinya engkau tidak akan setia kepadaku! Bukan ,..bukan..wanita sepertimu yang aku cari, aku mendambakan seorang istri yang setia dan taat kepada suaminya..!”
Lalu ia pun berdiri meninggalkan wanita ini, .. sang wanita dengan isak tangis yang tidak tertahan inipun akhirnya menemui ustadz tadi dan menceritakan Kisahnya…. Ia pun merasa malu untuk meminta rujuk kembali dengan suaminya yang dulu … mengingat betapa buruknya dia melayani suaminya dan telah menjadi istri yang tidak setia.
[Sumber : http://jilbab.or.id/archives/403-bercerai-dari-suami-akibat-kecanduan-chatting/ ]

Jika seseorang betul-betul merenungkan kisah di atas, tentu saja dia akan menggali beberapa pelajaran berharga. Itulah di antara bahaya chatting dengan lawan jenis yang tidak mengenal adab dalam bergaul. Lihatlah akibat chatting dengan lawan jenis, di sana bisa terjadi perceraian antara kedua pasangan tersebut disebabkan si istri memiliki hubungan dengan pria kenalannya di dunia maya.

Di pelajaran lainnya adalah hendaknya selalu ada pengawasan dari kepala keluarga terhadap anggota keluarganya. Kepala keluarga seharusnya dapat memberikan batasan terhadap pergaulan anggota keluarganya termasuk istrinya, apalagi dalam masalah penggunaan internet. Inilah pelajaran yang mesti diperhatikan oleh seorang suami sebagai kepala keluarga.

Adapun untuk anggota keluarga yaitu istri dan anak, hendaklah mereka selalu merasa mendapatkan pengawasan dari Allah subahanahu wa ta’ala. Hendaklah mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala mengetahui segala yang nampak maupun yang tersembunyi. Sehingga Allah mengetahui segala apa yang mereka lakukan. Karena Allah-lah Maha Mengetahui dan Maha Melihat dengan sifat kesempurnaan. Tentu saja sikap selalu merasa penjagaan dari Allah ini bisa muncul jika seseorang telah dibekali dengan aqidah dan tauhid yang benar. Itulah pentingnya pendidikan aqidah pada keluarga.
Selain itu pula, istri mesti diluruskan tatkala dia berada dalam kekeliruan. Istri mesti diluruskan dengan lemah lembut dan harus berhati-hati dalam menasehatinya.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا ، فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَىْءٍ فِى الضِّلَعِ أَعْلاَهُ ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا
"Bersikaplah yang baik terhadap wanita karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk. Bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk tersebut adalah bagian atasnya. Jika engkau memaksa untuk meluruskan tulang rusuk tadi, maka dia akan patah. Namun, jika kamu membiarkan wanita, ia akan selalu bengkok, maka bersikaplah yang baik terhadap wanita." (HR. Bukhari no. 5184)

Juga perlu diketahui bahwa kerusakan yang terjadi akibat chatting di atas bukanlah bisa terjadi hanya pada wanita. Kerusakan semacam itu pun sebenarnya dapat terjadi pada laki-laki. Oleh karena itu, perlu sekali diberitahukan kepada pembaca sekalian beberapa adab-adab yang mesti diperhatikan ketika bergaul dengan lawan jenis. Karena tidak memperhatikan beberapa adab berikut inilah terjadi keretakan rumah tangga atau mungkin bagi yang belum menikah pun bisa terjadi kerusakan dengan terjerumus dalam perantara-perantara menuju zina atau bahkan bisa terjerumus dalam zina. Na’udzu billahi min dzalik.
Beberapa Adab yang Mesti Diperhatikan dalam Pergaulan dengan Lawan Jenis (Yang Bukan Mahrom)

Pertama, menjauhi segala sarana menuju zina
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’ [17] : 32)

Kedua, selalu menutup aurat
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab [33] : 59)

Ketiga, saling menundukkan pandangan
Allah memerintahkan kaum muslimin untuk menundukkan pandangan ketika melihat lawan jenis. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ
“Katakanlah kepada laki – laki yang beriman :”Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An Nuur [24] : 30 )

Dalam lanjutan ayat ini, Allah juga berfirman,
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
“Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan kemaluannya” (QS. An Nuur [24] : 31)

Keempat, tidak berdua-duaan
Dari Ibnu Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ
“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahromnya.” (HR. Bukhari, no. 5233)

Kelima, menghindari bersentuhan dengan lawan jenis
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)

Keenam, tidak melembutkan suara di hadapan lawan jenis

Allah Ta’ala berfirman,
يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا
“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu melembutkan pembicaraan sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit (syahwat) dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al Ahzab: 32).

Perintah ini berlaku bukan hanya untuk istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun juga berlaku untuk wanita muslimah lainnya.

Lalu bagaimana dengan adab chatting dengan lawan jenis? Hal ini dapat pula kita samakan dengan telepon, SMS, pertemanan di friendster dan pertemanan di facebook.

Jawabnya adalah sama atau hampir sama dengan adab-adab di atas.

Pertama, jauhilah segala sarana menuju zina melalui pandangan, sentuhan dan berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahrom.

Kedua, tutuplah aurat di hadapan bukan mahrom.

Sehingga seorang muslimah tidak menampakkan perhiasan yang sebenarnya hanya boleh ditampakkan di hadapan suami. Contoh yang tidak beradab seperti ini adalah berbusana tanpa jilbab atau bahkan dengan busana yang hakekatnya telanjang. Inilah yang banyak kita saksikan di beberapa foto profil di FB atau friendster. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka.

Ketiga, tundukkanlah pandangan.

Bagaimana mungkin bisa saling menundukkan pandangan jika masing-masing orang memajang foto di hadapan lawan jenisnya? Wanita memamerkan fotonya di hadapan pria. Mungkinkah di sini bisa saling menundukkan pandangan? Oleh karena itu, alangkah baiknya jika foto profil kita bukanlah foto kita, namun dengan foto yang lain yang bukan gambar makhluk bernyawa. Tujuannya adalah agar foto wanita tidak membuat fitnah (godaan) bagi laki-laki, begitu pula sebaliknya. Di antara bentuk menundukkan pandangan adalah janganlah menggunakan webcamp selain dengan sesama jenis saja ketika ingin melakukan obrolan di dunia maya.

Keempat, hati-hatilah dengan berdua-duaan bersama lawan jenis yang bukan mahrom.

Jika seorang pria dan wanita melakukan pembicaraan via chatting, telepon atau sms –tanpa ada hajat (keperluan)-, itu sebenarnya adalah semi kholwat (semi berdua-duaan). Apalagi jika di dalamnya disertai dengan kata-kata mesra dan penuh godaan sehingga membangkitkan nafsu birahi. Dan jika memang ada pembicaraan yang dirasa perlu antara pria dan wanita yang bukan mahrom, maka itu hanya seperlunya saja dan sesuai kebutuhan. Jika tidak ada kebutuhan lagi, maka pembicaraan tersebut seharusnya dijauhi agar tidak terjadi sesuatu yang bisa menjurus pada yang haram.

Kelima, janganlah melembutkan atau mendayu-dayukan suara atau kata-kata di hadapan lawan jenis.

Penyimpangan dalam adab terakhir ini, kalau diterapkan dalam obrolan chatting adalah dengan kata-kata yang lembut atau mendayu-dayu dari wanita yang menimbulkan godaan pada pria. Contoh menggunakan kata-kata yang sebenarnya layak untuk suami istri seperti “sayang”, dsb.
Jika setiap muslim mengindahkan adab-adab di atas, maka tentu saja dia tidak akan terjerumus dalam perbuatan dosa dan tidak akan mengalami hal yang serupa dengan kisah di atas dengan izin Allah.

Kami ingatkan pula bahwa tulisan ini bukanlah hanya kami tujukan kepada kaum hawa saja, namun kami juga tujukan pada para pria agar mereka juga memperhatikan adab-adab di atas. Jadi janganlah tulisan ini dijadikan sebagai sarana untuk memojokkan wanita atau para istri, namun hendaklah dijadikan nasehat untuk bersama.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan sifat ketakwaan, memberi kita petunjuk dan kecukupan. Semoga Allah melindungi dan menjaga keluarga kita dari hal-hal yang haram dan mendatangkan murka Allah. Semoga risalah ini dapat bermanfaat bagi kaum muslimin. Wa shallallahu wa sallamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Walhamdulillahir rabbil ‘alamin.
***
Panggang, Gunung Kidul, 10 Sya’ban 1430 H
Sabtu, 1 Agustus 2009

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com