Monday, January 21, 2008

Buku Teks Pinjaman

Bulan Januari adalah bulan dimulainya tahun ajaran baru bagi sekolah-sekolah lokal di Malaysia. Ilham, anakku yg bungsu tahun ini memasuki kelas 6 Sekolah Rendah Kebangsaan (kalau di Indonesia yaitu SD Negeri), sedangkan anakku yg sulung setelah tamat dari Sekolah Kebangsaan melanjutkan ke Islamic Int'l School dimana tahun ajaran barunya bermula pada bulan Juli.  

Pada tahun-tahun sebelumnya, setelah mendapat senarai (daftar) buku teks dari sekolah Ilham, sayapun segera membeli buku-buku yg diperlukan di kedai buku sekolah atau di kedai buku lainnya di luar sekolah. Tetapi rupanya tahun ini berbeda keadaannya. Atas kebijakan pemerintah Malaysia, karena ada kelebihan dana (kok bisa ya kelebihan dana...? digunakan untuk kesejahteraan rakyat pula!) semua pelajar warga negara Malaysia berhak mendapat pinjaman buku teks. 

Buku teks itu langsung di drop ke sekolah-sekolah, diberi barcode sesuai dengan nama murid yg menerimanya. Di sampul belakang buku teks tercetak tulisan "not for sale". Setelah tahun ajaran berakhir, buku-buku itu harus dikembalikan untuk kemudian dibagi-bagikan lagi pada tahun ajaran berikutnya.  

Mendengar kabar tentang buku pinjaman, saya segera tahu bahwa anak saya pasti tidak berhak mendapatkannya karena kami warga negara asing. Sayapun meminta senarai buku teks dari pihak sekolah agar dapat membeli buku-buku itu di luar (kedai buku sekolah tidak lagi menjualnya).  

Belum sempat saya membeli buku-buku itu, pulang sekolah anak saya sudah menenteng buku-buku teks pinjaman lengkap dari sekolah. Saya terkejut dan merasa, pasti telah terjadi kekeliruan. Tidak mungkin anak saya mendapat buku pinjaman. Saya berpikir, daripada keburu diralat oleh pihak sekolah dan diminta untuk mengembalikan buku2 itu, keesokan harinya saya segera ke sekolah untuk mengklarifikasinya. Benar saja, ternyata pihak sekolah telah melakukan kekeliruan dengan memberi buku pinjaman kepada Ilham. Karena sekarang Ilham adalah satu-satunya warga asing yang bersekolah di situ (yg lain telah pindah ke Sekolah Indonesia KBRI), maka petugas pembagian buku test lalai meneliti daftar murid di komputer, tidak memperhatikan status anak saya yang bukan warga Malaysia. 

Untung saya segera bertindak mengklarifikasinya, sebelum mereka yang meminta kembali. Bukannya tidak mau buku gratis, tetapi sebagai warga negara Indonesia, saya merasa harus menjaga martabat bangsa saya. Saya harus tahu diri dan tahu aturan, bahwa memang tidak sepatutnya warga asing menikmati fasilitas pinjaman buku teks sebagaimana warga negara. Jangan sampai saya pasif, lalu pihak sekolah yg meminta kembali buku-buku itu.  

Tetapi, akibat dari kebijakan pinjaman buku teks itu, kami warga asing yg bersekolah di sekolah kebangsaan jadi agak repot hunting buku-buku itu di toko. Sudah tidak banyak lagi kedai buku yang menjual buku teks. Sementara proses belajar dan mengajar sudah bermula. 

Untungnya salah satu teman sesama warga Indonesia yg anaknya sekolah di sekolah kebangsaan lain (tidak satu sekolah dengan anak saya), berhasil menemukan sebuah kedai buku yang menjual buku-buku teks itu, yg letaknya lumayan jauh dari rumah, yaitu di daerah Salak Tinggi. Alhamdulillah, akhirnya anak saya berhasil membeli buku-buku yg lengkap di kedai buku itu. Tentu saja tanpa tulisan "not for sale".  

Walaupun repot, saya lega karena telah menunjukkan itikad baik sebagai warga asing untuk tidak memanfaatkan buku pinjaman yang diberikan kepada warga Malaysia. Terselip rasa kagum di hati saya, betapa pemerintah Malaysia sangat memperhatikan kepentingan dan kesejahteraan rakyatnya. Terlepas dari sikap negatif mereka terhadap bangsa kita, harus diakui bahwa banyak hal yang patut kita contoh dari mereka. 

Terlepas pula dari kemungkinan kebijakan tersebut dilakukan karena sebentar lagi akan diadakan pilihan raya (pemilu), rakyat benar2 merasakan bahwa kepentingan mereka amat diperhatikan. Tak mengapa menjelang pemilu rakyat diambil hatinya dengan berbagai fasilitas dan kemudahan, yang penting setelah pemilu usai, perhatian terhadap kesejahteraan rakyat tetap dijaga, tidak turut usai. Bukan cuma janji-janji kosong menjelang pemilu....