Thursday, March 6, 2008

Puisi Sapardi Djoko Damono

Suatu hari saat naik ERL KLIA transit (kereta rel listrik yang melayani jalur Kuala Lumpur Int'l Airport - Stasiun Sentral KL), mataku terpaku pada sebaris puisi yang terpampang di sisi plafond gerbong yang aku tumpangi. Puisi itu terpampang dalam tulisan hitam besar dengan latar putih sebagai bagian dari dekorasi gerbong kereta. Puisi yang cantik, dalam bahasa ibuku, bahasa Indonesia. Penulisnya: Sapardi Djoko Damono. Tak usah disebut darimana asalnya, semua yang membacanya pasti tahu, dia orang Indonesia. Terharu aku membacanya, karya bangsaku terpampang di sana. Karya Sapardi memang cantik. Karena sudah lama aku nggak naik train itu, aku lupa judul puisinya. Pagi ini saat aku baca blog liputan6.com, seorang jurnalis menulis tentang sepak terjang Herman Willem Daendels, Gubernur Hindia Belanda (1808-1811) membangun jalan Anyer - Panarukan sepanjang 1000 KM yang mengorbankan ribuan nyawa bangsa kita. Dalam akhir tulisan itu ia mengutip puisi Sapardi Djoko Damono: HUJAN BULAN JUNI Karya: Sapardi Djoko Damono tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu