Tuesday, March 4, 2008

Sahabat Terakhir

Syane Meyer adalah sahabatku sejak di bangku SD sampai SMP di kota Bitung, Sulawesi Utara sekitar tahun '75 sampai '80an. Syane orang Manado asli, sedangkan saya orang Jawa, pendatang. Kami sekelas di SD Katolik Don Bosco II Bitung, Sulawesi Utara.

Kemana-mana kami selalu berdua, baik di sekolah, kegiatan ektra kurikuler maupun kegiatan di hari libur. Syane adalah anak bungsu dari empat bersaudara, kakaknya yang sulung perempuan, dua orang kakaknya yg lain lelaki. Sedangkan aku adalah anak sulung. Mungkin inilah yang mebuat kami sangat cocok berteman. Lulus SD, kami berdua masuk ke SMP yg sama yaitu SMP Negeri I, masih di kota Bitung. Jarak kota Bitung dan Manado dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam dengan mobil.

Ketika masuk SMP kami ditempatkan di kelas yang berbeda. Karena tidak mau pisah kelas, kami berdua memohon kepada wali kelasnya Syane agar saya dipindahkan ke kelasnya. Beruntung permohonan kami dikabulkan.   

Memasuki masa remaja di SMP merupakan saat-saat yang menyenangkan bagi kami. Beberapa kegiatan ekstra kurikuler kami ikuti, antara lain pramuka, drumb band, senam, tenis, dll. Pada hari libur, saya berdua dengan Syane mengisi waktu dengan jogging berdua, saling mengunjungi dan bercengkerama dengan anggota keluarga, dan main tenis dengan teman-teman lainnya.

Ketika pramuka di sekolah kami akan mengadakan camping di luar kota, orangtua saya tidak mengijinkan saya ikut. Maklum, saya baru duduk di kelas I SMP, dan belum pernah ikut camping sebelumnya.

Lucunya, orangtua Syane pun tidak mengijinkan Syane ikut camping karena saya tidak ikut. Beruntung wali kelas kami bersedia datang ke rumah saya untuk meminta kepada orangtua saya agar mengijinkan anaknya ikut camping dengan jaminan penjagaan dari sang guru. Karena orangtua saya mengijinkan, maka Syane pun boleh ikut. Begitulah kami berdua menjadi sahabat yang seolah tidak dapat dipisahkan.

Sampai suatu hari terjadi peristiwa yang tidak bisa saya lupakan sampai sekarang. Saya ingat betul waktu itu hari Sabtu, menjelang libur semester 1. Saya dan Syane duduk di kelas 2 SMP. Setiap menjelang libur semester, kegiatan belajar mengajar sudah tidak ada karena baru selesai ulangan umum, tetapi karena belum saatnya terima rapor, murid2 masih diwajibkan datang ke sekolah tidak lagi belajar di kelas melainkan melakukan kegiatan ekstra kurikuler dan kerja bakti; bersih-bersih sekolah, belajar di kelas, menata kelas, dan memperindah taman di depan kelas.

Pagi itu, sebelum ke sekolah, Syane sepakat untuk bermain tenis dulu. Karena hari santai, tidak ada kegiatan belajar lagi, murid-murid tidak akan kena sanksi kalau datang terlambat. Tidak seperti biasanya, hari itu Syane bermain tenis lebih bersemangat. Ketika saya mengajaknya untuk pulang karena hari beranjak siang, dia menolak dan memaksa saya untuk melanjutkan permainan.  

Matahari sudah tinggi ketika akhirnya Syane mau kuajak pulang. Itupun karena saya ingatkan bahwa walaupun sudah tidak ada pelajaran, murid-murid tetap harus datang ke sekolah. Lagipula tidak enak rasanya kalau teman-teman sudah selesai kerja bakti kami baru datang. Saya dan Syane pulang ke rumah masing-masing untuk mandi dan bersiap berangkat ke sekolah. 

Di sekolah kami bercengkerama dan bercanda dengan teman-teman lainnya. Kebetulan guru Bahasa Inggris kami hari itu membawa kamera. Dengan meminjam kamera pak guru, Syane memaksa saya foto berdua dengannya sampai berkali-kali. Sampai sekarang foto2 itu masih tersimpan di album kuno saya.

Menjelang sore, kamipun pulang. Seperti biasa, kami pulang dengan berjalan kaki melalui jalan pintas, melewati rumah-rumah penduduk. Belum puas bercengkerama dengan teman-teman, kami mampir di rumah salah seorang teman, dan bersenda gurau lagi di sana. Saat menuju pulang, di pertigaan kami berpisah. Syane sendirian ke arah kiri, saya dan teman-teman lain belok ke kanan. Kami masih saja bercanda sambil melambai-lambaikan tangan pada Syane. Kami sempat mengejek dia karena jalan sendiri.

Masih lekat dalam ingatan saya sosok dan ekspresinya saat itu. Postur tubuhnya tinggi besar, berkulit putih, bermata agak sipit dan rambutnya ikal tebal, melambaikan tangan di kejauhan sambil berjalan mundur dan membalas ejekan kami. 

Minggu pagi keesokan harinya, seperti biasa kalau libur, habis solat subuh saya tidur lagi (maklum masih remaja ingusan, belum faham kalau habis subuh sebaiknya tidak tidur lagi). Sedang enak tidur tiba-tiba ibu membangunkan saya. 

"San, bangun San.... Ada Hani." Kak Hani adalah kakak lelaki Syane.

Dengan mata masih setengah merem saya segera beranjak ke depan. Heran juga saya, tumben amat Kak Hani datang. Bertahun-tahun saya bersahabat dengan Syane, keluarga kamipun saling mengenal baik, tetapi belum pernah sekalipun kakak2nya datang ke rumah kami. Syane kalau datang ke rumah saya selalu sendiri. 

Saya bersama ibu saya menemui Kak Hani yang berdiri di depan pintu dengan wajah kusut, bercelana jeans dan T'shirt, menenteng jaket jeans.

Dengan suara lirih dia menyampaikan kabar duka: "Syane meninggal!!". 

Syane meninggal...?? Saya bengong, bingung, bisu. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Menangis juga tidak. Cuma bengong aja. Dalam hati saya berkata: "ah..., gak mungkin. Lha wong kemarin sore kami masih bercanda dan dia sehat segar kok....", batinku. 

Ibu saya kemudian mempersilahkan kak Hani untuk duduk dulu dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dengan wajah sendu dan mata berkaca-kaca, kak Hani bercerita singkat bahwa Sabtu malam kemarin, Syane bersama ibunya dan kakak perempuannya serta beberapa saudara pergi ke Manado dengan kendaraan yang dikemudikan oleh salah seorang familinya. Ayah dan kedua kakak lelakinya tidak ikut serta. Di perjalanan, kendaraan yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan fatal yang merenggut nyawa Syane dan ibunya.

Kakak perempuannya dan penumpang lainnya selamat, mereka hanya mengalami luka ringan. Syane dan ibunya meninggal dunia tidak lama setelah tiba di tumah sakit. 

Mendengar cerita Kak Hani saya masih bengong, betul-betul bengong. Saya tetap masih tidak yakin bahwa Syane sudah tiada. Apakah lambaian tangannya kemarin adalah lambaiannya yang terakhir? Saat itu tidak ada airmata, tidak ada tangisan. Dengan perasaan masih tak percaya tapi tubuh seperti tidak bertenaga, saya mandi dan berpakaian, bersiap-siap ke sekolah untuk bersama teman-teman lainnya menuju rumah duka. 

Diantar oleh ibu saya dan sopir, saya pergi ke sekolah. Di sekolah teman-teman sudah berkumpul. Kamipun berangkat ke Manado, menuju ke rumah saudara Syane dimana jenazah Syane dan ibunya disemayamkan. 

Dalam perjalanan ke Manado, saya mulai menyadari apa yang sedang terjadi tapi masih tetap tidak percaya. Sepanjang jalan saya diam tidak dapat berkata-kata, antara percaya dan tidak, saya mulai menangis. Kendaraan jeep Toyota yang saya tumpangi sesak juga oleh teman-teman lain yang sama-sama terdiam dengan wajah duka tapi tak percaya. 

Setelah tiba di rumah duka dan melihat sendiri jenazah Syane berdampingan dengan jenazah ibunya barulah saya percaya bahwa saya telah ditinggal pergi oleh sahabat karib saya.

Sepanjang jalan dari rumah duka ke pemakaman, sambil membawa karangan bunga dan berjalan mengiringi peti jenazah Syane, saya tak henti2 menangis ...... 

Hari-hari selanjutnya di sekolah merupakan hari-hari yang berat bagi saya. Di sekolah saya baru betul-betul merasakan sedih teramat sangat kehilangan sahabat. Bangku di sebelah saya tiba-tiba kosong, teman jajan ke kantin telah tiada, teman seiring saat pulang sekolah telah pergi untuk selama-lamanya dalam usia yang amat muda, 14 tahun.

Biasanya saat Syane masih ada, pada jam istirahat setelah jajan di kantin, sambil menunggu jam pelajaran dimulai, saya akan menelungkupkan kepala saya di meja, lalu Syane akan menggunting ujung2 rambut yang terbelah di antara rambut saya yang panjang sepinggang. Untuk itu saya selalu membawa gunting kecil ke sekolah! 

Kami berdua sama-sama hobby olahraga. Minggu-minggu pertama sejak Syane tiada, saya tidak sanggup mengikuti pelajaran olahraga, karena setiap kali berkumpul di lapangan bersama teman-teman, hanya sosok Syane yang ada di mata sehingga saya selalu menangis.

Saya bersyukur teman-teman dan guru-guru amat baik dan perhatian pada saya. Pada saat pelajaran olahraga itu, guru-guru memperhatikan keadaan saya dari ruang guru. Mereka memahami perasaan saya, sehingga mereka memanggil saya untuk duduk saja di ruang guru dan mengajak saya ngobrol sampai pelajaran olahraga berakhir. 

Sejak Syane pergi, teman-teman berusaha mendekati saya, mencoba menghibur dan mengajak saya bercanda, menemani saya di sekolah maupun dalam perjalanan pulang sekolah, melewati jalan yang selalu saya lalui bersama Syane. Karena perhatian yang besar dari teman-teman dan guru, perlahan-lahan saya mulai bisa menghilangkan kesedihan ditinggal pergi selamanya oleh sahabat saya itu. Walaupun semasa Syane masih ada kami berdua juga berteman dengan teman2 lainnya, namun setelah dia tiada teman saya jadi bertambah banyak, tapi tidak lagi ada sahabat karib pengganti Syane. 

Syane menjadi sahabat saya yang terakhir. Sejak kehilangan Syane, saya tidak pernah lagi punya sahabat sedekat dia. Dia telah pergi untuk selamanya bersama dengan ibunya yang tercinta. Seperti anak bungsu pada umumnya, Syane sangat dekat dan manja pada ibunya. Dan takdir telah digariskan, mereka pergi bersama .......