Saturday, March 1, 2008
Sang Maha Berkehendak
Sore itu hari Rabu, 27 Februari 2008 pulang sekolah Dita diajak Ain, temennya yg tinggal gak jauh dari rumah kami untuk ikut di mobilnya. Hari itu Ain dijemput ayahnya. Biasanya pergi dan pulang sekolah Ain naik mobil seorang guru yg tinggal di Putrajaya presint 16 (kami dan juga keluarga Ain tinggal di presint 9). Dita gak bisa ikut guru itu karena mobil sedan sang guru sudah penuh diisi oleh dua teman dita dan dua lagi anak pak guru.
Setiap pagi Dita ke sekolah naik train (KLIA transit, nyambung LRT, nyambung bus, lalu jalan kaki). Pulangnya, Dita diajak Hannah untuk ikut mobil Hannah, temen sekelasnya yg tiap hari dijemput ibunya. Hannah tinggal di Kajang (Kajang -Putrajaya ditempuh dalam waktu 10-15 menit naik mobil), jadi setiap sore aku jemput Dita di Kajang.
Karena sore itu Ain dijemput ayahnya, Dita diajak. Jarak sekolah Dita di daerah Gombak (KL) ke Putrajaya kira-kira 51 KM. Karena jalan2 di sini hampir semua highway, maka waktu tempuh Gombak - PJ dengan mobil berkecepatan 90-100 km/jam adalah sekitar 45 menit. Saat jam2 sibuk, waktu tempuhnya bisa sedikit lebih lama karena jalanan padat merayap, bumper to bumper alias rada macet, karena melewati tengah kota KL.
Karena sore itu aku gak perlu jemput ke Kajang, aku tenang2 aja di rumah nunggu Dita. Tiba2 Dita telepon ke hp ku. Kupikir dia cuma mau ngabarin akan pulang agak telat krn jalanan macet.
"Ma, Dita tabrakan", katanya di telepon. Hah...?? Tentu saja aku kaget dengernya...tapi aku gak panik krn suaranya biasa2 aja, jadi kupikir dia baik2 aja. Aku tanya "tabrakan dimana dan gimana kejadiannya?". Dia bilang tabrakan beruntun.
Kejadiannya di perempatan gak terlalu jauh dari rumah, udah masuk presint 9. Mobil Ain penyok parah depan belakang. Dita kejedot sandaran kursi depan 2 kali (Dita dan Ain duduk di belakang). "Dita pusing dikit", katanya. Alhamdulillah mereka tidak cedera, ayahnya Ain yg nyetir juga gak apa2 (untungnya pengemudi di sini sudah terbiasa memakai seatbelt, kalau tidak pasti fatal akibatnya).
Karena papanya Dita kebetulan lagi libur, segera ia meluncur ke lokasi, bawa Ain dan Dita pulang. Rupanya, tabrakan berawal dari robohnya papan gambar partai (bentar lagi kan mo pemilu) di tepi jalan raya. Jalanan di sini kan mulus2 dan lancar2 semua, makanya mobil2 pada keenakan meluncur dengan lancar dan cenderung ngebut. Papan gambar partai dipasang terlalu ke pinggir dekat jalan, jadi ketika papan itu roboh bertepatan dengan melajunya sebuah mobil di dekat papan itu, maka mobil tersebut ngerem mendadak sehingga tabrakan beruntun tak terelakkan. Mobil Ain berada di posisi tengah, sehingga terjadi dua kali benturan, pertama menabrak mobil di depannya, kedua ditabrak mobil di belakangnya.
Alhamdulillah Dita sampai rumah dengan selamat. Tapi karena sampai sekarang dia masih mengeluh sakit di bagian leher belakang, rencananya aku mau memeriksakannya ke dokter. Mudah2an sih gak apa2. Seharusnya, seperti peraturan yg telah resmi ditetapkan pemerintah, penumpang di belakang juga wajib memakai seatbelt. Sayangnya Dita dan Ain saat itu gak pakai seatbelt.
Kejadian itu membuat aku merenung dan bertambah yakin, betapa Allah swt pemilik segala kuasa. Kita tidak pernah tau apa yg akan terjadi. Sebagai manusia kita wajib berusaha sebaik mungkin, semaksimal mungkin dalam segala hal, tetapi hasil akhir tetaplah hak Allah. Segala peristiwa ada dalam kekuasaan Allah.
Dita yg setiap pagi kukhawatirkan keselamatannya karena berangkat sekolah sendiri naik train dan bus dgn jarak tempuh yg lumayan jauh, justru mengalami tabrakan mobil saat nebeng temennya dimana saat itu aku tenang2 saja menunggu di rumah krn merasa Dita akan baik2 saja.
Peristiwa yg terjadi pada seorang kawan kami hampir sebulan yg lalu juga telah membuat kami makin menyadari kebesaran dan kekuasaanNya.
Tetangga depan rumah kami, sesama Indonesian, meninggal dunia secara mendadak. Padahal sebelumnya ia tidak pernah diketahui mengidap penyakit jantung atau penyakit lainnya. Betapa kami semua, teman2 Indonesian di sini, tetangga, teman2 seprofesinya, amat terkejut dengan berita itu.
Almarhum selama ini sehat2 saja, selalu ceria, suka bercanda dan bertegur sapa dengan semua orang. Tiba2, bagai dalam mimpi, dia tiada lagi. Dalam sekejap mata, rumah depan rumahku itu didatangi banyak orang untuk berta'ziah. Dalam sekejap mata, rumah asri dan tertata apik (almarhum menyukai tanaman dan suka menata rumah) itu berubah menjadi rumah duka.
Sampai hari ini, aku dan suamiku masih terbayang-bayang sosoknya, suaranya, gayanya, candanya. Bahkan suara alarm mobilnya masih terngiang-ngiang. Bagaimana tidak, rumah kami depan2an. Jaraknyapun tidak jauh karena rumah2 di kompleks kami tanpa pagar, dan jalan kompleks tidak terlalu lebar. Hampir setiap hari aku atau suamiku bertemu almarhum di depan rumah. Saat kami baru pulang, pas dia mau berangkat, begitu juga sebaliknya. Seringkali sebelum berangkat bertugas, suamiku ngobrol2 sebentar dengannya di depan rumah dan saling bercanda.
Peristiwa kepergiannya yg mendadak, apalagi nun jauh di negri orang ini, membuat kami semua kembali disadarkan betapa Maha Berkehendaknya Allah. Betapa Ia Maha Perkasa, Maha Berkuasa, Maha Mengetahui segala rahasia. Kita manusia kembali disadarkan, betapa kecil diri kita berhadapan dengan segala keagungan dan kekuasaanNya.
Semoga Allah swt senantiasa menuntun kita ke jalan kebenaran dan memberi keselamatan dunia dan akhirat, dan kita dapat mencapai khusnul khotimah. Amin....