Sambil posting di blog MP, sekilas aku mendengar seorang artis sinetron Malaysia di televisi lokal menyebut kata "habis madu sepah dibuang". Spontan aku berhenti menekan tuts keyboard dan suamiku pun nyeletuk,
"kok aneh, habis madu sepah dibuang. Emang madu ada sepahnya?".
Aku menjawab,
"ya begitulah, akibat banyaknya pendatang dari Indonesia sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu sampai saat ini, banyak sekali kebudayaan, makanan, dan bahasa Indonesia yang dibawa ke semenanjung Malaysia ini, dengan perubahan dan kerancuan di sana-sini."
Semasa di bangku sekolah di tanah air dahulu, yang diajarkan oleh guru-guru kita adalah pepatah "habis manis sepah dibuang". Ini adalah pengibaratan dari sebatang tebu, yang apabila dihisap atau diperas akan keluar air manisnya, setelah habis manisnya maka sepahnya dibuang. Rupanya "setibanya" di Malaysia, istilah manis ini dikonotasikan dengan madu. Tetapi jadi kurang pas karena madu tidak bersepah. Uniknya lagi, bersepah dalam bahasa Malaysia berarti berserak/berserakan. Jadi lengkaplah sudah kerancuannya.
Bukan hanya itu, belakangan ini saya perhatikan, semakin banyak istilah-istilah bahasa Indonesia yang dipakai di Malaysia, bukan hanya dalam tulisan non formal ataupun dalam talk show di radio dan televisi, dan sebagainya tetapi sudah diserap ke dalam bahasa resmi mereka. Contohnya, anak saya yang lelaki yang masih duduk di kelas 6 Sekolah Rendah (SD) bercerita bahwa di buku pelajaran bahasa Malaysia ada cerita yang memuat kata "gedung". Selama ini yang saya tahu, gedung mereka sebut bangunan. Teman-temannya spontan bertanya kepada sang guru, apa artinya "gedung". Sang guru menjelaskan bahwa kata "gedung" berasal dari Bahasa Indonesia, dan lucunya beliau menyuruh anak saya menjelaskan kepada temen-teman sekelasnya apa artinya "gedung".
Ada satu lagi: gratis. Kata gratis (berasal dari bahasa Belanda) dan dipakai di Indonesia yang mempunyai arti free/free of charge/no charge. Bahasa Malaysia untuk free/no charge adalah percuma. Jadi kalau bahasa Inggris free ticket, maka dalam bahasa Malaysia adalah tiket percuma.
Belakangan ini kami melihat beberapa tulisan gratis di sini untuk kata lain dari percuma. Suatu hari saat sedang dalam tugas, suami saya melihat passport seorang warga negara Malaysia yang dideportasi dari Thailand karena suatu hal. Di passport-nya terdapat tulisan biaya: gratis yang ditulis/distempel oleh pihak imigrasi Malaysia. Suami saya bertanya pada beberapa orang awak kabinnya yang warga Malaysia, apakah mereka tahu apa artinya gratis. Merekapun menggelengkan kepala tanda tidak tahu. Lalu suami saya menjelaskan bahwa kata gratis dipakai di Indonesia yang berasal dari Bahasa Belanda.
Satu yang perlu mendapat perhatian kita bangsa Indonesia adalah, sedapat mungkin gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar baik dalam tulisan resmi maupun setengah resmi baik berupa surat-menyurat, berita di koran, artikel di majalah, maupun dalam sinetron, cerita pendek, novel dan lain-lain. Begitu pula ketika kita bercakap dengan sesama orang Indonesia di hadapan orang asing terutama orang Malaysia ini.
Sebab, banyak di antara kawan-kawan melayu kami yang menyangka bahwa bahasa gaul atau bahasa Jakarta yang biasa digunakan orang Indonesia sehari-hari maupun yang sering mereka dengar dari sinetron-sinetron Indonesia di televisi Malaysia itulah yang merupakan bahasa Indonesia.
Pada suatu masa dahulu, sastera Indonesia dikenal sangat indah dan dikagumi oleh bangsa serumpun di Malaysia, Singapura dan Brunei. Bahkan di beberapa sekolah menengah di Australia ada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Mengapa bahasa Indonesia yang disukai oleh bangsa lain tidak berusaha digunakan dengan baik dan dilestarikan oleh bangsa kita sendiri?
Sementara itu di sini, pemerintah Malaysia telah mengeluarkan edaran resmi (edaran ini saya lihat ditempel di dinding sekolah anak saya) bahwa istilah Bahasa Melayu yang sejak dulu mereka gunakan dalam surat-surat resmi maupun untuk mata pelajaran, harus dirubah menjadi istilah Bahasa Malaysia, bukan lagi Bahasa Melayu. Tanpa bermaksud sok tahu, tapi saya menduga, hal ini dilakukan sebagai antisipasi untuk mengelak dari tuduhan menjiplak atau mengambil bahasa Indonesia karena kesamaan asal usul bahasa kita dan mereka yaitu bahasa Melayu.
Perlahan-lahan mereka menginventarisasi kata-kata ke dalam bahasa resmi mereka dan ke dalam buku pelajaran sekolah lalu memberinya label Bahasa Malaysia. Karena itu, marilah kita pergunakan milik kita dengan baik dan benar, baik itu kebudayaan, bahasa, adat istiadat dan juga makanan, agar terjaga kelestariannya dan terjaga dari pengakuan bangsa lain. Tidak mengapa orang Malaysia memakai bahasa yang sama dengan kita, karena memang kenyataannya asal usul kita sama, tetapi jangan sampai terjadi: mereka mengakui bahasa Indonesia sebagai bahasa mereka, sementara kita tetap asyik memakai bahasa gaul atau bahasa Jakarta. Ibarat barang berharga, harus kita jaga dan pergunakan dengan baik. Jangan sampai kita mengabaikannya, tetapi ketika ada orang lain yang mengambilnya barulah kita marah-marah.