Thursday, January 21, 2010

Tanggapanku atas artikel kiriman seorang kawan

Pada suatu hari, seorang teman lama mengirim sebuah artikel agama yang ditulis oleh seseorang --yang namanya belum pernah kudengar di kalangan para ulama-- judulnya "Empat Belas Abad". Isinya adalah tentang komplain si penulis terhadap kebiasaan ummat Islam yang dianggapnya meniru-niru budaya Arab yaitu dengan mengucapkan kalimat-kalimat berbahasa Arab, memakai sorban, gamis putih, berjanggut, dan bercelana ngatung. Selain itu, si penulis juga mencela perempuan muslim yang menutup auratnya dengan pakaian muslimah yang dianggapnya sama sekali tidak bagus dan membuat penampilan si wanita "tidak karu-karuan".

Penulis juga mencela ke-egoisan lelaki yang hanya mau istrinya dilihat oleh suaminya saja, tidak boleh dinikmati keindahan dan kecantikannya oleh lelaki lain. Dia menyebut bahwa Allah swt menciptakan wanita dengan segala keindahannya dan mengangkat martabat wanita di tempat yang mulia tetapi kemudian kaum lelaki menjerumuskan wanita serendah-rendahnya sehingga hanya menjadi pemuas kebutuhan suami saja.

Memang di bagian bawah artikelnya, si penulis membandingkan dengan akhlak Rasulullah yang mulia, yang penuh damai, yang sangat toleran, dan berhasil menaklukkan Mekah tanpa pertumpahan darah. Dan itu adalah benar adanya. Tetapi inti dari tulisan itu, menurut hemat saya, merupakan ungkapan/ pendapat pribadinya saja yang banyak mencela umat Islam di tanah air.

Di bawah ini saya posting artikel kiriman kawan saya tersebut beserta surat jawaban saya terhadap teman yg mengirimi saya artikel itu:

EMPATBELAS ABAD! Bagian 3.
by: Iwan H. Suriadikusumah


Saya membayangkan di Arasy Allah mengelus dada sambil menggeleng-gelengkan kepalaNya.


Sementara Dia berfirman "...Kujadikan berbangsa-bangsa supaya kalian saling mengenal...", (Al Hujuraat 49:13), setelah empatbelas abad ummatNya yang diharapkanNya menjadi rahmatan lil alamien malah jadi semakin bodoh.

Ummat Islam Indonesia di jaman modern sekarang malah berjalan mundur berpikir seakan-akan Dia menghendaki seluruh ummatNya jadi Arab semua. Penampilan seragam bercelana ngatung, baju tak berkerah, kupluk timur tengah dengan memanjangkan kumis dan janggut yang kadang-kadang cuma berisi beberapa lembar rambut saja dibiarkan panjang tak beraturan.

Pemuka2nyapun jadi semakin tidak percaya diri di depan ummatnya sehingga merasa perlu menggantungkan diri pada penampilan fisik.

Mereka berpikir dan merasa bahwa memakai sorban yang semakin tebal dan besar, berpakaian mirip Bangsa2 Timur Tengahlah yang akan membuat diri mereka semakin dipercaya ummat. Bukan dengan peri laku dan ucapan sehari2 yang akan dijadikan suri tauladan.

MakhlukNya yang perempuan yang diciptakanNya demikian indah dan sedap dipandang bagi seluruh alam direduksi fungsi dan derajatnya hanya sekedar jadi pemuas seorang laki2 yang berpredikat sebagai suami.

Seakan2 Allah telah membuat kesalahan besar menciptakan makhluk yang mulia dan molek ini sehingga makhluk yang mulia ini diwajibkan (oleh manusia) supaya dibungkus rapat-rapat dan disembunyikan segala keindahan dan kemolekannya dari pandangan mata dunia.

Bukan, bukan rapat-rapat sehingga akan menampilkan bentuknya yang indah. Karena keindahan bentukpun sama-sekali tidak boleh kelihatan melainkan harus disembunyikan juga. Dibungkus sedemikian rupa supaya segala keindahan dan kemolekan yang dianugerahkan Allah menjadi tersembunyi. Sehingga makhluk-makhluk yang diciptakanNya penuh kemuliaan, indah dan molek, yang menghiasi dan memperkaya nuansa dunia karena sedap dipandang ini berubah penampilannya di muka bumi menjadi makhluk buruk-rupa yang tidak karu-karuan bentuknya!

Supaya tidak membangunkan nafsu hewani penuh berahi yang sepenuhnya menguasai otak dan kaum ummatNya yang laki-laki!

Makhluk perempuan yang diciptakanNya sederajat dihadapanNya kecuali atas ketaqwaan terhadapNya, direndahkan sedemikian rupa dibandingkan yang laki2 melalui hadits2 yang diciptakan khusus untuk itu.

Islam mengangkat derajat perempuan tinggi2, kaum lelaki menjerumuskan mereka kembali serendah2nya sehingga hanya berfungsi sebagai sekedar pemuas kebutuhan para suami saja!

Sementara para budayawan bersusah-payah mempertahankan supaya budaya2 tidak punah, sebagian besar ulama mendoktrin anak-anak muda seakan2 Allah menghendaki kaum muslim hanya berbicara dalam bahasa Arab.

Ikhwan dan Akhwat. Jazakallahul khairan. Wallahu. Bilahittaufiq wal hidayah.

Semua hanya menjadi mantera2 karena yang menyampaikan maupun yang mendengar sama2 tidak mengerti artinya. Pokoknya Arab adalah kunci pembuka pintu surga. Semakin Arab nuansanya semakin lebar pula terbuka pintu surga!

Etnis Sunda semakin modern semakin malu berbahasa Sunda yang indah, merdu dan melodik penuh nuansa. Tetapi sebaliknya bangga kalau banyak membunyikan kata2 dari bahasa Arab yang di jaman modern kini disebut bahasa Islam dan huruf Quran.

Islam yang disebarkan Nabi dengan lembut dan sarat dengan contoh2 yang mulia penuh toleransi, berubah menjadi garang dan menakutkan.
Penuh dengan ancaman dan makian.
Tidak sedikit khotib2 di shalat Jumat menyesatkan ummat dengan cara sengaja merancukan dan mengidentikkan kafir yang tidak percaya akan adanya Tuhan dengan kaum Yahudi dan Nasrani yang halal sembelihannya untuk dimakan, halal perempuan-perempuannya untuk dinikahi ummat Islam.
Menakut2i ummat Islam seakan2 setiap manusia yang bukan Islam adalah kaum kafir jahat yang menjadi ancaman bagi ummat manusia dan harus diperangi dan dimusnahkan duluan.

Akibatnya pemuda2 Islam yang teracuni doktrin inilah malah yang menjadi ancaman bagi dunia. Menganggap dirinya martir dan ahli surga apabila berhasil membunuh dirinya sendiri dengan sebanyak2nya menimbulkan kerusakan di dunia.
Dijanjikan 70 perawan di akhirat kalau berhasil membawa korban sekian nyawa. Kafir, Nasrani, Yahudi maupun sesama muslim!
Dengan mengutip hadits entah darimana, dan menafsirkannya memakai logika yang hanya pantas dimiliki orang yang bila tidak idiot, tentu penganut ilmu iblis yang memang diijinkanNya untuk menyesatkan manusia di dunia.

Al Hijr 15:39-40. Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka."

Setelah empatbelas abad sudah masanya kita ummat Islam kembali jadi pedoman dan mercu-suar dunia dengan cara mengajarkan dan meneladani ummat manusia seperti dulu dicontohkan Nabi Muhammad s.a.w.

Adakah Nabi menyerang dan membunuhi kaum kafir seperti kaum Wahabi membunuhi sesama muslim yang dianggap berbeda dengan mereka? Adakah pernah diriwayatkan Nabi menyerang dan memaki kaum Nasrani dan Yahudi dalam dakwah-dakwahnya?
Kecuali kepada mereka, kaum-kaum yang mengkhianati perjanjian, dan terlebih dahulu secara fisik menyerang diri dan kaumnya?
Mungkinkah kaum Nasrani dan Yahudi bisa merasa aman di bawah pemerintahan Nabi, apabila setiap saat Nabi mengancam dan memusuhi mereka?
Adakah riwayat mencatatnya demikian?
Masuk akal sehatkah?

Setelah empatbelas abad ummat Islam seharusnya cukup cerdas untuk menyadari bahwa Nabi Muhammad s.a.w. diutus semata-mata buat mengajarkan ummat menyembah Allah.

Untuk mengIslamkan dan bukan mengArabkan ummat manusia.

Mengajarkan peradaban dan bukan kebiadaban.
Menebarkan kedamaian, bukan terror.
Untuk membangun, bukan menghancurkan.

Mereka yang setiap saat mengancam dan menakut2i ummat sehingga para pemuda bersedia melakukan tindakan "pre-emptive" dengan melakukan tindakan bom bunuh diri di tempat damai seperti Indonesia jelas2 BUKAN penganut ajaran Nabi Muhammad s.a.w., manusia yang dikenal jujur dan paling bisa dipercaya (sehingga mendapat julukan Al-Amien bahkan sebelum diangkat Allah menjadi utusanNya!), lemah-lembut, sopan-santun dan ramah-tamah! Nabi Muhammad s.a.w. adalah manusia teladan yang tetap bersikap demikian bahkan sesudah menggenggam kekuasaan yang besar dan nyata ditangannya.

Ketika akhirnya beliau menaklukkan Mekkah tidak ada setitik darahpun yang tertumpah.
Tidak ada bangunan yang rusak.
Tidak ada pohon, tumbuhan dan ternak yang terganggu.

Sementara kaum jahilliyah Quraisy berbondong2 masuk agama “baru” yang dibawanya ini tanpa paksaan atau ancaman, kaum yang tetap tidak masuk Islam tidak ada yang terancam apalagi dilukai. Karena agama yang diajarkan Nabi ini hanyalah untuk mereka yang rela memilih Islam jadi agamanya. Bukan dipaksa di bawah ancaman.

Al Baqarah 2: 256. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)

Bedakan Arab dengan Islam.

Islam harus dipupuk jiwanya, bukan fisiknya yang memang tidak ada.

Dengan demikian maka Islam akan merasuk dan mengakar, menjadi satu dengan budaya lokal. Tidak merubah apalagi menghilangkan sifat dan budaya luhung yang sudah ada. Mengadopsi kualitas lokal yang sudah baik dan memperbaiki yang masih bisa ditingkatkan (dengan Islam yang diajarkan Al Quran).

Dengan demikian maka Islam akan menjadi kuat dan membumi, karena bukan merupakan budaya asing yang dicangkokkan ke yang lokal.
Yang kemudian malah mendominasi unsur lokal seperti yang sekarang dipaksakan oleh pihak-pihak tertentu.
Yang menyebabkan ummat Islam setempat menjadi kehilangan identitas aslinya. Lokal tidak, Arabpun bukan!
Sehingga malah jadi berlawanan dengan bunyi surat Al Hujuraat 49:13 yang saya kutipkan di awal tulisan di atas. Bahwa Allah sengaja menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan berkaum-kaum supaya saling mengenal.
Menggeser dan menghilangkan kearifan lokal yang lebih baik karena penyebaran kebodohan yang diadopsi mentah-mentah oleh penerimanya.

Pamulang, 13 Januari 2009.


 TANGGAPAN SAYA UNTUK TEMAN YANG MENGIRIM ARTIKEL TERSEBUT  
14 January 2010


  Akhir tulisan yang mengulas tentang akhlak Rasulullah s.a.w itu memang betul adanya. Tetapi sayangnya pandangan penulis tentang umat Islam Indonesia, ditulis hanya berdasarkan pendapat pribadinya saja.

Dari kalimat pembuka saja sudah bisa dilihat, bahwa penulis hanya berandai-andai dan membayangkan saja bahwa Allah swt di Arsy mengelus dada dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Padahal Islam tidak bisa ditelaah dari andaian dan khayalan.


Kalimat “seakan-akan Dia menghendaki seluruh ummat-Nya jadi Arab semua” menurut aku tidak tepat. Inilah yang seringkali disalah tafsirkan orang kafir, bahkan muslim sekalipun banyak yang keliru memandang Islam dan Arab. Orang sering mengindentikkan Islam dengan Arab. Padahal tidaklah demikian. Tampaknya memang Islam identik dengan Arab, karena memang agama itu diturunkan di tanah Arab, Rasullulah Saw orang Arab, Kitab Sucinya berbahasa Arab, do'a do'a dan segala aturan yang diajarkan Rasulullah s.a.w tentu saja berbahasa Arab. Demikian juga kebiasaan-kebiasaan Rasulullah sebagai manusia adalah tidak jauh dari kebiasaan orang Arab, walaupun tidak semua kebiasaan orang Arab dilakukan oleh beliau.


Kalau ummat Islam memakai pakaian khas yaitu sorban atau kupluk, berjanggut, bercelana ngatung, bergamis putih, itu semata-mata karena ingin mengikuti kebiasaan Rasulullah. Semua itu dilakukan atas dasar rasa cinta yang besar kepada beliau.Tampak identik dengan Arab, tentu, karena Rsulullah orang Arab. Kalau Rasulullah orang Jawa, ummat yang ingin meniru penampilannya akan memakai blangkon, jarik, beskap, lengkap dengan kerisnya.


Perlu dipahami bahwa segala sesuatu yang berasal dari Rasulullah dikategorikan ke dalam 3 hal:
1. ucapannya
2. perbuatannya
3. diamnya

Seluruh gerak gerik, amalan (perbuatan) dan perkataan nabi disebut SUNNAH.

Ada 2 pendekatan untuk mendefinisikan sunnah Rasul:


1. KEBIASAAN yang merupakan bawaan asal Nabi.
    Misalnya:
- berbahasa Arab,
- bersorban,
- gamis putih,
- terompah,
- tongkat,
- janggut,
- makan dengan tangan kanan,
- tidak makan dan minum sambil berdiri,  
- kalau disapa bukan hanya meolehkan kepala tetapi menghadapkan seluruh badannya kepada
   orang yang menyapa
- menyukai labu, paha kambing, jus buah
- tidak menyukai kadal gurun walaupun itu halal dimakan dan para sahabat menyukainya
- ahli strategi perang
- membantu pekerjaan istri di rumah
- menjahit sendiri pakaiannya yang koyak

Para ulama sepakat, perbuatan nabi yang merupakan kebiasaannya boleh diikuti, boleh tidak diikuti, yaitu jika :
I.   merupakan adat dan tradisi.
II. perbuatan itu muncul secara natural/alami dari Nabi yang tidak bisa ditolak.


2. HUKUM dan IBADAH

 Contoh perbuatan Nabi menyangkut IBADAH:
- dalam keadaan sudah berwudhu, Nabi mencium istrinya (Aisyah) sebelum solat, yang mengandung   pengajaran bahwa dalam keadaan berwudhu kita boleh mencium istri/suami kita asalkan tidak disertai dengan syahwat.
- ketika Nabi sedang solat ada orang masuk dan memberi salam beliau mengangkat tangan kanannya  sebagai tanda membalas salamnya, yang mengandung pengajaran bahwa kita wajib membalas salam walaupun sedang solat dengan cara mengangkat tangan kanan.
- diam ketika mendengarkan khutbah

Sunnah Nabi yang menyangkut hukum dan ibadah wajib diikuti oleh ummatnya dan mendapat pahala karena ketaatan kita kepada ajarannya, sedangkan perbuatan Nabi yang menyangkut kebiasaan Nabi, boleh diikuti, boleh tidak diikuti, dan jika ummat Islam mengikutinya maka akan mendapat pahala karena kecinttankita kepada beliau. Kebiasaan itu nampak serupa merupakan kebiasaan Arab (baca: asing), karena memang Rasulullah orang Arab. 

Mengapa kita harus mempersoalkan dan mencela kebiasaan ummat Islam yang hendak meniru Rasulullah dalam berpakaian dan bersikap, sementara kita mendiamkan saja bahkan bangga dengan perbuatan meniru gaya penampilan dan sikap perilaku orang-Barat. Contohnya bercelana jeans, mengecat rambut menjadi pirang, menindik hidung, pusar, bahkan lidah, memakai T’shirt ngatung sampai tampak (maaf) pusar dan celana dalamnya, menyukai lagu-lagu dan tarian-tarian dari budaya barat, makanan ala barat, pergaulan ala barat. Bukankan  itu juga kebiasaan dan budaya asing? Padahal budaya dan adat kebiasaan barat itu banyak yang bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunnah.

Kalau kita mau konsekwen menjunjung dan mepertahankan budaya asli kita masing-masing, mengapa para pria jawa tidak pakai beskap dan blangkon saja, kalau perlu dengan kerisnya sekalian? Mengapa para wanitanya tidak pakai jarik (kain batik ketat membungkus bagian bawah tubuh) dan kebaya (baju ketat menerawang yang membungkus bagian atas tubuh) dan meng-konde rambutnya? Coba kita perhatikan penampilan, cara berpakaian dan adab pergaulan umat Islam sekarang, bukankah itu semua berasal dari budaya dan kebiasaan barat? mengapa orang-orang seperti penulis artikel di atas tidak mempersoalkannya?

Mengenai pakaian wanita muslim, bukankah sebagai orang yang mengaku beragama Islam kita harus meng-imani seluruh isi al-Qur’an tanpa membantahnya? Aturan berpakaian bagi wanita muslimah tercantum jelas dalam al-Qur’an, yaitu :


QS An-Nuur ayat 31:
“………….. dan hendaklah mereka MENUTUPKAN KAIN KERUDUNG KE DADANYA, dan janganlah menampakkan perhiasan (auratnya)…………..”


QS Al-Ahzab ayat 59:
“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka menutupkan jilbabnya KE SELURUH TUBUH MEREKA…..”.


Jilbab bukanlah sepotong kain penutup kepala. Jilbab adalah sejenis baju kurung atau kain lebar/pakaian longgar dan lebar yang dapat menutup seluruh tubuh wanita (lihat tafsir Qur'an).

Bukankan perintah menutup aurat bagi wanita sudah jelas dan tegas dalam Al-Qur’an? Apa lagi yang hendak kita perdebatkan? Apakah kita mau seperti ummat-ummat terdahulu  yang menyimpangkan ayat-ayat Allah dan menyembunyikan di belakang punggung mereka.

Kalimat penulis yang mengatakan "kaum lelaki menjerumuskan wanita serendah-rendahnya sehingga hanya menjadi pemuas kebutuhan suami saja", perlu ditelisik dengan hati jujur dan akal yang sehat. Bukankan seorang lelaki menikahi wanita dan menjadikannya sebagai istri bukan sekedar pemuas nafsu tetapi juga sebagai penjaga kehormatannya dengan sederet kewajiban sebagai seorang suami yang akan dipertanggung-jawabkannya di hadapan Allah kelak? 

Bukankah wanita baik-baik dan terhormat yang akan dipilih oleh seorang lelaki baik-baik untuk dijadikan istri, untuk saling menyayangi dan saling menjaga kehormatan? Bandingkan dengan wanita-wanita yang hidup bebas, tidak menutup aurat, berkeliaran di tengah masyarakat di siang maupun malam hari, bergaul bebas serta bercampur baur (ikhtilat) dengan lelaki yang bukan mahramnya sehingga menjadi obyek pemuas mata dan syahwat sembarang lelaki tanpa terbebani kewajiban dan tanggung jawab terhadap si wanita? Apakah itu yang dimaksud dengan mengakat derajat wanita ?

Tentang bahasa Arab. Tidakkah kita tahu bahwa bahasa Indonesia merupakan serapan dari berbagai unsur bahasa baik bahasa daerah, bahasa penjajah Belanda, bahasa Sansekerta, juga bahasa Arab. Coba perhatikan, terdiri dari kata-kata apa sajakah kepanjangan dari DPR dan MPR? dewan, majelis, musyawarah, rakyat; bukankah semua itu berasal dari bahasa Arab? Belum lagi kata-kata yang lainnya; nikah, adab, janin, lemari, asli, nasib (=bagian), dan masih banyak lagi. Dan jangan lupa, kata-kata dalam bahasa Inggris juga banyak yang merupakan serapan dari bahasa Arab, contoh camera berasal dari kata qomar, cover dari kata kafaro/kufur yang berarti tertutup (hari dan jiwanya tertutup), cable berasal dari kata hablun yang artinya menyambung/menghubungkan.

Mengenai doktrin dan ajaran-ajaran yang sesat yang merasuki para pemuda, yang harus kita lawan bukan hanya doktrin-doktrin sesat mengatas-namakan agama untuk membunuh dan mengebom tetapi juga doktrin-doktrin barat berupa gaya hidup bebas, pergaulan bebas, dan musik-musik yang melenakan serta gaya hidup hedonis yang menjauhkan umat Islam terutama para pemuda dari mengingat Allah, yang membuat umat Islam melanggar larangan-Nya dan tidak lagi mentaati perintah-Nya.

Perang dan perlawanan terhadap musuh Islam dengan senjata berat dilakukan di negara yang diserang dengan senjata, yaitu perang fisik dan pertumpahan darah. Tetapi negara seperti Indonesia, perang dan perlawanan yang harus dilakukan ummat Islam  adalah perang pemikiran, karena di negeri kita, musuh-musuh dengan mudah menghancurkan Islam dari dalam tanpa kita sadari, dengan cara menyerang pemikiran dan cara pandang serta cara hidup ummat Islam. Akibatnya menjadikan ummat Islam menjauh dari ajaran agamanya bahkan ada yang sampai membenci agamanya sendiri.

Karena itu, mari belajar dengan sungguh-sungguh kepada ulama (orang berilmu), dan berhati-hatilah! Jangan asal baca, asal ikut, asal-asalan.