Ada kisah menggelikan lagi nih tentang Bahasa Malaysia (dulu disebut Bahasa Melayu, sekarang mereka mau identitasnya lebih jelas jadi dirubah menjadi Bahasa Malaysia). Anakku bercerita, di soal latihan ulangan Bahasa Malaysia kelas 6 Sekolah Rendah, ada kata-kata "mengadu domba". Murid-murid bingung dan bertanya pada cikgu-nya, apa artinya mengadu domba.
Cikgu menjelaskan: "mengadu domba maknanya orang banyak bercakap, buat orang bergaduh, macam itu lah....."
Ketika sang murid kembali bertanya apa artinya domba, cikgu menjawab tidak yakin: "domba maknanya.... banyak bercakap...".
Anakku berbisik pada teman sebangkunya: "bukan itu laah, domba maknanya biri-biri !".
Aku geli campur gemes denger cerita anakku itu. Aku bilang sama dia: "lain kali kamu ngomong langsung aja sama cikgu, jangan cuma bisik-bisik ke temen". Menggelikan, ibarat seseorang mengambil barang orang lain tetapi tidak tahu apa fungsinya dan bagaimana cara menggunakannya.
Friday, April 18, 2008
Thursday, April 17, 2008
Dapat dari teman, sekedar berbagi...
"NDESO"
oleh : Ustad Abdullah Muadz
Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan, udik, shock culture, Countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga sama terkagum-kagum sama seperti dia.
Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa, seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias deso.
Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara si Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana. Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo naik kendaraan umum, sementara yang akan dijemput, pejabat Indonesia naik mobil dinas Kedutaan yaitu mercy.
Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara ceremoni dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri, saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai Merk Holden baru yang paling murah untuk ukuran Australia. Yang menarik, para pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya.
Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand. Dia seorang warga Negara Malaysia keturunan cina, sudah selesai S3, sekarang lagi mengikuti program Post Doc, Dia anak serorang pengusaha yang kaya raya. Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya.
Satu bulan saya di jepang tidak melihat orang pakai hp communicator, mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca Koran ternyata konsumen terbesar hp communicator adalah Indonesia. Sempat berkenalan juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata dia anak seorang pejabat tinggi Negara, juga naik kereta. Yang tak kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di pakai masyarakat jepang ternyata tak bermerek, wah ini yang deso siapa yaa?
Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di jepang atau di Australia, baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu pekerjaan dan jabatanya di perusahaan. Jangan-jangan kalau orang jepang diajak ke Pondok Indah bisa Pingsan melihat rumah segitu gede dan mewahnya. Rata-rata rumah disana memiliki tinggi plafon yang bisa dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun banyak yang lesehan. Sampai akhir hayatnya Rasulullah tidak membuat istana Negara dan Benteng Pertahanan (khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk perang ahzab saja), padahal Rasulullah sudah sangat mengenal kemawahan istana raja-raja Negara sekelilingnya, karena Beliau punya pengalaman berdagang. Ternyata Beliau tidak menjadi silau terus ikut-ikutan latah ingin seperti orang-orang. Lalu dimana aktivitas kenegaraan dilakukan? Mengingat beliau sebagai kepala Negara. Jawabannya ya di masjid. Beliau punya banyak jalan yang legal untuk bisa membangun istana. Di Mekkah nikah dengan janda kaya, di madinah jadi kepala Negara, punya hak prerogative dalam mengatur harta rampasan perang dan ada jatah dari Allah untuk dipergunakan sekehendak beliau, belum hadiah dari raja-raja. Tetapi mengapa beliau sering kelaparan, ganjal perut dengan batu, puasa sunnah niatnya siang hari, shalat sambil duduk menahan perih perut dan seterusnya.
Ketika Indonesia sedang terpuruk, Hutang lagi numpuk, rakyat banyak yang mulai ngamuk, Negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak ceremonial yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, dll, dsb, dst Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi WTS (Wanita Tidak Sholat, di Malaysia "Wanita Tak Senonoh") , angka kriminal rendah, korupsi berkurang, punya posisi tawar terhadap kekuatan global. Maka orang Deso (alias norak) tidak mampu mengatasi krisis karena tidak bisa menjadikan krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN. Nah karena yang menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah Negara normal atau bahkan mengikut Negara maju. Bayangkan ada daerah yang menganggarkan Sepak Bola 17 Milyar sementara anggaran kesranya 100 juta, wiiieh!
Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan dari atas sampai bawah : - Orang bisa antri Raskin sambil pegang hp - Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok - Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untk beli tv dan kulkas - Orang bule mabuk krn kelebihan uang, Orang kampung mabuk beli minuman patungan - Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala - Para Pengungsi bisa berjoged dalam tendanya - Orang beli Gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah - Ijazah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang sempit di cibubur - Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk Mc Donald - Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia persepakbolaan. - Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin hp - 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja - Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di acara tembang kenangan. - Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor - Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar - Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan - Agar kelihatan inklusif mk hrs bisa menggandeng siapa saja, kl perlu jin tomang jg digandeng. Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere.
"NDESO"
oleh : Ustad Abdullah Muadz
Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan, udik, shock culture, Countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga sama terkagum-kagum sama seperti dia.
Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa, seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias deso.
Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara si Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana. Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo naik kendaraan umum, sementara yang akan dijemput, pejabat Indonesia naik mobil dinas Kedutaan yaitu mercy.
Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara ceremoni dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri, saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai Merk Holden baru yang paling murah untuk ukuran Australia. Yang menarik, para pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya.
Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand. Dia seorang warga Negara Malaysia keturunan cina, sudah selesai S3, sekarang lagi mengikuti program Post Doc, Dia anak serorang pengusaha yang kaya raya. Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya.
Satu bulan saya di jepang tidak melihat orang pakai hp communicator, mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca Koran ternyata konsumen terbesar hp communicator adalah Indonesia. Sempat berkenalan juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata dia anak seorang pejabat tinggi Negara, juga naik kereta. Yang tak kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di pakai masyarakat jepang ternyata tak bermerek, wah ini yang deso siapa yaa?
Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di jepang atau di Australia, baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu pekerjaan dan jabatanya di perusahaan. Jangan-jangan kalau orang jepang diajak ke Pondok Indah bisa Pingsan melihat rumah segitu gede dan mewahnya. Rata-rata rumah disana memiliki tinggi plafon yang bisa dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun banyak yang lesehan. Sampai akhir hayatnya Rasulullah tidak membuat istana Negara dan Benteng Pertahanan (khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk perang ahzab saja), padahal Rasulullah sudah sangat mengenal kemawahan istana raja-raja Negara sekelilingnya, karena Beliau punya pengalaman berdagang. Ternyata Beliau tidak menjadi silau terus ikut-ikutan latah ingin seperti orang-orang. Lalu dimana aktivitas kenegaraan dilakukan? Mengingat beliau sebagai kepala Negara. Jawabannya ya di masjid. Beliau punya banyak jalan yang legal untuk bisa membangun istana. Di Mekkah nikah dengan janda kaya, di madinah jadi kepala Negara, punya hak prerogative dalam mengatur harta rampasan perang dan ada jatah dari Allah untuk dipergunakan sekehendak beliau, belum hadiah dari raja-raja. Tetapi mengapa beliau sering kelaparan, ganjal perut dengan batu, puasa sunnah niatnya siang hari, shalat sambil duduk menahan perih perut dan seterusnya.
Ketika Indonesia sedang terpuruk, Hutang lagi numpuk, rakyat banyak yang mulai ngamuk, Negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak ceremonial yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, dll, dsb, dst Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi WTS (Wanita Tidak Sholat, di Malaysia "Wanita Tak Senonoh") , angka kriminal rendah, korupsi berkurang, punya posisi tawar terhadap kekuatan global. Maka orang Deso (alias norak) tidak mampu mengatasi krisis karena tidak bisa menjadikan krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN. Nah karena yang menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah Negara normal atau bahkan mengikut Negara maju. Bayangkan ada daerah yang menganggarkan Sepak Bola 17 Milyar sementara anggaran kesranya 100 juta, wiiieh!
Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan dari atas sampai bawah : - Orang bisa antri Raskin sambil pegang hp - Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok - Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untk beli tv dan kulkas - Orang bule mabuk krn kelebihan uang, Orang kampung mabuk beli minuman patungan - Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala - Para Pengungsi bisa berjoged dalam tendanya - Orang beli Gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah - Ijazah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang sempit di cibubur - Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk Mc Donald - Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia persepakbolaan. - Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin hp - 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja - Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di acara tembang kenangan. - Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor - Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar - Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan - Agar kelihatan inklusif mk hrs bisa menggandeng siapa saja, kl perlu jin tomang jg digandeng. Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere.
Monday, April 14, 2008
Bahasa Kita
Sambil posting di blog MP, sekilas aku mendengar seorang artis sinetron Malaysia di televisi lokal menyebut kata "habis madu sepah dibuang". Spontan aku berhenti menekan tuts keyboard dan suamiku pun nyeletuk,
"kok aneh, habis madu sepah dibuang. Emang madu ada sepahnya?".
Aku menjawab,
"ya begitulah, akibat banyaknya pendatang dari Indonesia sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu sampai saat ini, banyak sekali kebudayaan, makanan, dan bahasa Indonesia yang dibawa ke semenanjung Malaysia ini, dengan perubahan dan kerancuan di sana-sini."
Semasa di bangku sekolah di tanah air dahulu, yang diajarkan oleh guru-guru kita adalah pepatah "habis manis sepah dibuang". Ini adalah pengibaratan dari sebatang tebu, yang apabila dihisap atau diperas akan keluar air manisnya, setelah habis manisnya maka sepahnya dibuang. Rupanya "setibanya" di Malaysia, istilah manis ini dikonotasikan dengan madu. Tetapi jadi kurang pas karena madu tidak bersepah. Uniknya lagi, bersepah dalam bahasa Malaysia berarti berserak/berserakan. Jadi lengkaplah sudah kerancuannya.
Bukan hanya itu, belakangan ini saya perhatikan, semakin banyak istilah-istilah bahasa Indonesia yang dipakai di Malaysia, bukan hanya dalam tulisan non formal ataupun dalam talk show di radio dan televisi, dan sebagainya tetapi sudah diserap ke dalam bahasa resmi mereka. Contohnya, anak saya yang lelaki yang masih duduk di kelas 6 Sekolah Rendah (SD) bercerita bahwa di buku pelajaran bahasa Malaysia ada cerita yang memuat kata "gedung". Selama ini yang saya tahu, gedung mereka sebut bangunan. Teman-temannya spontan bertanya kepada sang guru, apa artinya "gedung". Sang guru menjelaskan bahwa kata "gedung" berasal dari Bahasa Indonesia, dan lucunya beliau menyuruh anak saya menjelaskan kepada temen-teman sekelasnya apa artinya "gedung".
Ada satu lagi: gratis. Kata gratis (berasal dari bahasa Belanda) dan dipakai di Indonesia yang mempunyai arti free/free of charge/no charge. Bahasa Malaysia untuk free/no charge adalah percuma. Jadi kalau bahasa Inggris free ticket, maka dalam bahasa Malaysia adalah tiket percuma.
Belakangan ini kami melihat beberapa tulisan gratis di sini untuk kata lain dari percuma. Suatu hari saat sedang dalam tugas, suami saya melihat passport seorang warga negara Malaysia yang dideportasi dari Thailand karena suatu hal. Di passport-nya terdapat tulisan biaya: gratis yang ditulis/distempel oleh pihak imigrasi Malaysia. Suami saya bertanya pada beberapa orang awak kabinnya yang warga Malaysia, apakah mereka tahu apa artinya gratis. Merekapun menggelengkan kepala tanda tidak tahu. Lalu suami saya menjelaskan bahwa kata gratis dipakai di Indonesia yang berasal dari Bahasa Belanda.
Satu yang perlu mendapat perhatian kita bangsa Indonesia adalah, sedapat mungkin gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar baik dalam tulisan resmi maupun setengah resmi baik berupa surat-menyurat, berita di koran, artikel di majalah, maupun dalam sinetron, cerita pendek, novel dan lain-lain. Begitu pula ketika kita bercakap dengan sesama orang Indonesia di hadapan orang asing terutama orang Malaysia ini.
Sebab, banyak di antara kawan-kawan melayu kami yang menyangka bahwa bahasa gaul atau bahasa Jakarta yang biasa digunakan orang Indonesia sehari-hari maupun yang sering mereka dengar dari sinetron-sinetron Indonesia di televisi Malaysia itulah yang merupakan bahasa Indonesia.
Pada suatu masa dahulu, sastera Indonesia dikenal sangat indah dan dikagumi oleh bangsa serumpun di Malaysia, Singapura dan Brunei. Bahkan di beberapa sekolah menengah di Australia ada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Mengapa bahasa Indonesia yang disukai oleh bangsa lain tidak berusaha digunakan dengan baik dan dilestarikan oleh bangsa kita sendiri?
Sementara itu di sini, pemerintah Malaysia telah mengeluarkan edaran resmi (edaran ini saya lihat ditempel di dinding sekolah anak saya) bahwa istilah Bahasa Melayu yang sejak dulu mereka gunakan dalam surat-surat resmi maupun untuk mata pelajaran, harus dirubah menjadi istilah Bahasa Malaysia, bukan lagi Bahasa Melayu. Tanpa bermaksud sok tahu, tapi saya menduga, hal ini dilakukan sebagai antisipasi untuk mengelak dari tuduhan menjiplak atau mengambil bahasa Indonesia karena kesamaan asal usul bahasa kita dan mereka yaitu bahasa Melayu.
Perlahan-lahan mereka menginventarisasi kata-kata ke dalam bahasa resmi mereka dan ke dalam buku pelajaran sekolah lalu memberinya label Bahasa Malaysia. Karena itu, marilah kita pergunakan milik kita dengan baik dan benar, baik itu kebudayaan, bahasa, adat istiadat dan juga makanan, agar terjaga kelestariannya dan terjaga dari pengakuan bangsa lain. Tidak mengapa orang Malaysia memakai bahasa yang sama dengan kita, karena memang kenyataannya asal usul kita sama, tetapi jangan sampai terjadi: mereka mengakui bahasa Indonesia sebagai bahasa mereka, sementara kita tetap asyik memakai bahasa gaul atau bahasa Jakarta. Ibarat barang berharga, harus kita jaga dan pergunakan dengan baik. Jangan sampai kita mengabaikannya, tetapi ketika ada orang lain yang mengambilnya barulah kita marah-marah.
"kok aneh, habis madu sepah dibuang. Emang madu ada sepahnya?".
Aku menjawab,
"ya begitulah, akibat banyaknya pendatang dari Indonesia sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu sampai saat ini, banyak sekali kebudayaan, makanan, dan bahasa Indonesia yang dibawa ke semenanjung Malaysia ini, dengan perubahan dan kerancuan di sana-sini."
Semasa di bangku sekolah di tanah air dahulu, yang diajarkan oleh guru-guru kita adalah pepatah "habis manis sepah dibuang". Ini adalah pengibaratan dari sebatang tebu, yang apabila dihisap atau diperas akan keluar air manisnya, setelah habis manisnya maka sepahnya dibuang. Rupanya "setibanya" di Malaysia, istilah manis ini dikonotasikan dengan madu. Tetapi jadi kurang pas karena madu tidak bersepah. Uniknya lagi, bersepah dalam bahasa Malaysia berarti berserak/berserakan. Jadi lengkaplah sudah kerancuannya.
Bukan hanya itu, belakangan ini saya perhatikan, semakin banyak istilah-istilah bahasa Indonesia yang dipakai di Malaysia, bukan hanya dalam tulisan non formal ataupun dalam talk show di radio dan televisi, dan sebagainya tetapi sudah diserap ke dalam bahasa resmi mereka. Contohnya, anak saya yang lelaki yang masih duduk di kelas 6 Sekolah Rendah (SD) bercerita bahwa di buku pelajaran bahasa Malaysia ada cerita yang memuat kata "gedung". Selama ini yang saya tahu, gedung mereka sebut bangunan. Teman-temannya spontan bertanya kepada sang guru, apa artinya "gedung". Sang guru menjelaskan bahwa kata "gedung" berasal dari Bahasa Indonesia, dan lucunya beliau menyuruh anak saya menjelaskan kepada temen-teman sekelasnya apa artinya "gedung".
Ada satu lagi: gratis. Kata gratis (berasal dari bahasa Belanda) dan dipakai di Indonesia yang mempunyai arti free/free of charge/no charge. Bahasa Malaysia untuk free/no charge adalah percuma. Jadi kalau bahasa Inggris free ticket, maka dalam bahasa Malaysia adalah tiket percuma.
Belakangan ini kami melihat beberapa tulisan gratis di sini untuk kata lain dari percuma. Suatu hari saat sedang dalam tugas, suami saya melihat passport seorang warga negara Malaysia yang dideportasi dari Thailand karena suatu hal. Di passport-nya terdapat tulisan biaya: gratis yang ditulis/distempel oleh pihak imigrasi Malaysia. Suami saya bertanya pada beberapa orang awak kabinnya yang warga Malaysia, apakah mereka tahu apa artinya gratis. Merekapun menggelengkan kepala tanda tidak tahu. Lalu suami saya menjelaskan bahwa kata gratis dipakai di Indonesia yang berasal dari Bahasa Belanda.
Satu yang perlu mendapat perhatian kita bangsa Indonesia adalah, sedapat mungkin gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar baik dalam tulisan resmi maupun setengah resmi baik berupa surat-menyurat, berita di koran, artikel di majalah, maupun dalam sinetron, cerita pendek, novel dan lain-lain. Begitu pula ketika kita bercakap dengan sesama orang Indonesia di hadapan orang asing terutama orang Malaysia ini.
Sebab, banyak di antara kawan-kawan melayu kami yang menyangka bahwa bahasa gaul atau bahasa Jakarta yang biasa digunakan orang Indonesia sehari-hari maupun yang sering mereka dengar dari sinetron-sinetron Indonesia di televisi Malaysia itulah yang merupakan bahasa Indonesia.
Pada suatu masa dahulu, sastera Indonesia dikenal sangat indah dan dikagumi oleh bangsa serumpun di Malaysia, Singapura dan Brunei. Bahkan di beberapa sekolah menengah di Australia ada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Mengapa bahasa Indonesia yang disukai oleh bangsa lain tidak berusaha digunakan dengan baik dan dilestarikan oleh bangsa kita sendiri?
Sementara itu di sini, pemerintah Malaysia telah mengeluarkan edaran resmi (edaran ini saya lihat ditempel di dinding sekolah anak saya) bahwa istilah Bahasa Melayu yang sejak dulu mereka gunakan dalam surat-surat resmi maupun untuk mata pelajaran, harus dirubah menjadi istilah Bahasa Malaysia, bukan lagi Bahasa Melayu. Tanpa bermaksud sok tahu, tapi saya menduga, hal ini dilakukan sebagai antisipasi untuk mengelak dari tuduhan menjiplak atau mengambil bahasa Indonesia karena kesamaan asal usul bahasa kita dan mereka yaitu bahasa Melayu.
Perlahan-lahan mereka menginventarisasi kata-kata ke dalam bahasa resmi mereka dan ke dalam buku pelajaran sekolah lalu memberinya label Bahasa Malaysia. Karena itu, marilah kita pergunakan milik kita dengan baik dan benar, baik itu kebudayaan, bahasa, adat istiadat dan juga makanan, agar terjaga kelestariannya dan terjaga dari pengakuan bangsa lain. Tidak mengapa orang Malaysia memakai bahasa yang sama dengan kita, karena memang kenyataannya asal usul kita sama, tetapi jangan sampai terjadi: mereka mengakui bahasa Indonesia sebagai bahasa mereka, sementara kita tetap asyik memakai bahasa gaul atau bahasa Jakarta. Ibarat barang berharga, harus kita jaga dan pergunakan dengan baik. Jangan sampai kita mengabaikannya, tetapi ketika ada orang lain yang mengambilnya barulah kita marah-marah.
Subscribe to:
Posts (Atom)